Tidak Mendidik?

Saya menilai, temanku yang satu ini memang selektif sekali dalam beberapa hal. Semua harus dinilai dari segi manfaat dan faidah yang terkandung dalam aspek yang disentuh.

Malam itu kami berdua menonton TV. Remote control dia pegang. Berkali-kali pencat-pencet tombol ganti-ganti saluran. Berkali-kali itu pula beragam komentar muncul dari mulutnya. Ada acara TV yang katanya punya program berkelas dan begitu mendidik. Acara-acara seperti itulah yang menurutnya sangat dibutuhkan oleh bangsa ini.

Sampai pada saat TV beralih ke saluran salah satu stasiun swasta tanah air yang kerap menayangkan film anak-anak dan acara musik dangdut, dia berkomentar bahwa terlalu banyak acara TV yang tidak bermutu sering bermunculan. Dia heran, bangsa sedemikian besar kok ya masih ada saja program-program tak bermutu muncul disiarkan televisi-televisi tanah air. Kalau seperti ini terus, kapan bangsa ini maju?

“acara gak bermutu kok masih saja disiarin di TV..!” katanya.

Komentar seperti ini memang sering bermunculan dari teman-teman saya. Ketika kutanya dari segi apa dulu mereka menilai sebuah acara itu tak berkualitas, sebagian besar dari mereka umumnya tak bisa menjawab lebih lanjut dan argumen mereka hanya berputar-putar saja pada alasan “Kurang mendidik”. Tentu aku tak harus membentaknya sambil berkata: “terlalu normatif!”

Televisi memang menjadi alat penyebar kebudayaan yang paling efektif, tak salah memang kalau kita mengharapkannya menjadi media yang mampu berperan dalam pesan-pesan yang membangun bagi masyarakat. Dengan pola sedemikian rupa, tingkah pola masyarakat sebagian besar meniru kebudayaan yang disalurkan lewat media ini. Segala lapisan masyarakat bisa memanfaatkannya sesuai gaya masing-masing. Dari mulai mengisi waktu senggang di malam hari sambil berkumpul dengan keluarga, sampai memanfaatkannya sebagai media kampanye para calon pemimpin dari parpol anu dan itu.

Saya tak tahu jelas kenapa komentar tak bermutunya acara televisi itu muncul. Dugaan terkuat memang hal itu muncul dari aspek pendidikan dan kebudayaan. Dianggap sebagai media yang mempunyai peran strategis dalam memobilisasi sikap masyarakat, bertanggung jawab untuk memainkan perannya semaksimal mungkin. Tapi, sejauh apapun tingginya kadar kekhawatiran kita, kalau masyarakat toh malah menyukainya, kita mau bilang apa? Pasar memang mempunyai wilayah yang lebih menarik ketimbang berfikir tentang ide-ide yang ngejelimet.

Dalam fikiran saya, tak selalu kita harus berfikir seputar mendidik atau tidaknya sebuah saluran televisi. Semua pasti mengandung hikmah dan faidah masing-masing. Tak mungkin kaleng bekas di tempat pembuangan sampah kumuh itu tak punya manfaat sama sekali. Bangunan tempat ibadahpun kadangkala bisa sangat merugikan bagi mereka para pengembang jalan tol yang ingin membebaskan lahan. Bukan tentang siapa yang salah, tapi siapa yang bisa memanfaatkannya.

Acara-acara televisi yang terkesan remeh seperti itu memang terkesan tak bermutu kalau hanya dilihat dari beberapa segi saja. Tapi akan sangat bermanfaat bagi mereka yang memiliki tingkat kreatifitas dan intuisi pemanfaatan peluang yang bergelut di bidangnya masing-masing.
Saya mempunyai seorang teman yang kini sedang merintis karir sebagai penulis skenario film profesional. Karena ia seorang pemula yang baru terjun di dunia itu dan belum memiliki nama besar, ia memulai pengiriman naskahnya dari jenis film anak muda dan film anak-anak. Sudah ada beberapa naskahnya yang sudah diterima dan menjadi film.

Dari segi lain, tentunya itu sangat menguntungkan dan mendidik. Stasiun-stasiun televisi yang mempunyai kelas rendahan itu bisamenjadi wadah penyaluran kreatifitas para pemula. Bukankah sebuah langkah itu harus dimulai dari yang kecil dulu? Seorang pengusaha besar seperti Bob Hasan pun memulai bisnisnya dari menjadi pedagang kaki lima keliling dulu sebelum seperti sekarang. Apa kita juga akan berkomentar kalau pedagang kaki lima itu adalah cerminan kurang bermutunya para pengusaha di negeri ini?

Saya juga mempunyai beberapa teman yang sedang belajar menulis. Apa saja bentuknya. Ada artikel, essay, cerpen dan juga puisi. Seringkali mereka mengirimkan tulisannya ke berbagai media. Perasaan gembira dan bangga mereka sangat hebat ketika tulisan mereka berhasil menembus media. Dan itu sangat memacu mereka untuk lebih meningkatkan kualitas dan mutu karya mereka. Tentu saja mereka memulainya dari media lokal, media kecil dahulu. Karena kalau kita yang bukan siapa-siapa langsung mengirim ke media besar, Kompas misalnya, bukan mustahil membutuhkan waktu yang lama dan berkali-kali pengiriman dulu sebelum dimuat. Dan itu kerap menjadi membahayakan dan mengancam semangat kita yang sedang menggebu.

Saya ngeri membayangkan kalau semua stasiun televisi negeri ini menjadi berkelas dan bermutu semuanya. Siap yang akan menampung kreatifitas mereka para pemula? Tidak menutup kemungkinan banyak anak muda yang takut untuk terjun di dunia entertainment karena semuanya membutuhkan level yang super tinggi.

Saya takut membayangkan kalau semua penerbit koran menjadi sedemikian idealismenya, berkelasnya dan berkualitasnya. Kemana tulisan teman-teman saya yang masih pemula itu tersalurkan. Saya takut mereka menjadi patah semangat dan kemudian memilih untuk membunuh kreatifitas mereka sendiri:berhenti.

Saya juga heran dengan gaya berfikir yang begitu melangit, seakan lupa bahwa kaki mereka masih menginjak tanah. Apakah mereka tak yakin kalau mereka itu masih erada di bumi?

Kampung Utan, Sabtu, 20.11 WIB, 29 Mei 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: