Tahlilan Orang Gila

Beberapa menit setelah Sholat Jumat kami ngumpul di Kosan Kampung Utan. Masih dengan pakaian sholat masing-masing. Di situ hadir Gus Akip, Muin, Aji, Nanang, Iskandar dan Aku sendiri. Suasana santai karena memang hari itu semuanya tak ada yang punya agenda—Jumat kemarin memang tanggal merah libur Waisak.

Bahan obrolan mengalir tak bertema, ringan-ringan saja. Tak jauh dari gurauan-gurauan remeh (tentang ini, kenapa sih hal yang biasa-biasa aja itu sering disebut “remeh-temeh”?) Ketika obrolan hampir masuk ke tema yang sedikit serius, dari luar ada suara orang memanggil dengan sebutan ganjil.

“Dusss…. Weduuussss….!”

Semuanya sempat bingung tak tahu siapa diantara kita yang pernah mendapat julukan Wedus di lain tempat. Tapi ketika Aji bangun dan menghampiri sumber suara itu kami segera tahu siapa sebenarnya pemilik nama Wedus itu. Gelak tawa segera meledak. tak ada yang menyangka kalau ternyata Aji lah orangnya. Padahal kan dia lulusan STM ADB Tegal—kalau kalian orang Tegal, pasti tahu seberapa berkelasnya siswa ADB.

Obrolan Aji dengan temannya di luar depan ini cukup pelan dan tak satu suarapun terdengar samapai ke dalam. Kemudian Aji masuk dan menggerutu. Katanya, teman satu kelasnya di Fakultas Sains & Tekhnologi itu memang kalau becanda suka kelewatan. Kerap memanggil teman-temannya dengan sebutan yang tak wajar. Panggilan Wedus pada Aji itu hanyalah sebagian saja. Ada temannya yang dipanggil Ketek, Munyuk dan macaam-macam lagi.

“kita kerjain aja yuk…”, kataku dengan memainkan mata ke arah Gus Akip meminta persetujuan.
Semua menyambut dengan senang hati. Watak pergaulan anak-anak Tegal di Ciputat sini memang begitu. Suka hal-hal aneh yang menghibur.

“ngerjain gimana?” Aji menyahut penasaran.

“begini, kita pura-pura saja ngumpul-ngumpul kaya gini mau tahlilan. Dan bla bla bla…..”

Semua sepakat. Rencana mulai dijalankan. Kebetulan saat itu kami sedang rama-ramai menikmati Es Teh Manis yang dibuat dengan porsi banyak. Aji keluar mengajak temannya supaya ikut nimbrung, yang lain serentak ikut juga membujuk agar anak itu mau masuk. Dikeroyok seperti itu dia tak bisa menolak. Ikut ke dalam.

“ada acara apa nih ngumpul-ngumpul kaya gini rame-rame?” katanya basa-basi sambil duduk.

Rencana kumulai. “ini, Bang… kita mau ngadain tahlilan. Biasa, agenda rutin tiap habis Jumat-an. Lha, berhubung orang yang biasa mimpin (mimpin tahlilan) itu lagi ada acara di luar dan belum juga balik, kami sepakat biar yang mimpin acara situ aja. Mau, kan?

Disodori peran sedemikian mendadaknya membuat air mukanya langsung berubah. Mungkin saja dia bingung. Bisa mimpin tahlilan atau tidak itu bukan masalah bagi kami. Yang kami tahu dia itu orang kota. Dan sepengetahuan kami, sangat sedikit anak muda kota yang bisa mimpin tahlilan. Dari mukanya sangat jelas kalau dia sedang berfikir untuk mengelak lalu segera pulang.

“ayo… langsung mulai aja, Bang”, kata Muin.

“iya, keburu sore nanti”, Nanang ikut-ikutan juga akhirnya.

“Kalau doa nanti jangan lama-lama ya. Biar gak malah bikin ngantuk”, kata Aji.

Sebenernya aku sudah gak kuat lagi untuk tertawa. Tapi berhubung suasana belum memungkinkan, aku tahan saja dalam hati. Aku yakin yang lain juga pastinya demikian.
Semuanya diam menunggu suara pertama dari teman Aji itu. Perlahan dia berbisik ke telinga Aji.

“aku gak bisa mimpin tahlil nih. Lagian kenapa sih datang-datang langsung disuruh mimpin kayak gini? Mau ngerjain apa gimana?”

Aji hanya senyum kecil mendengarnya lalu diam cuek.

Suasana kami ciptakan sedemikian serius supaya terkesan kalau permintaan kami memang tak main-main. Aku lihat dengan mukanya yabng masih bingung, tangannya masuk ke dalam saku. Jari-jarinya bergerak-gerak tak tahu apa yang sedang dilakukannya. Sesaat setelah tangannya keluar terdengar bunyi panggilan masuk dari HP-nya. Dia ijin keluar mau mengangkat telpon sebentar. Kami mengiyakan.

Di dalam tawa-tawa kecil segera muncul. Ini anak pasti bukan main bingungnya. Haha… dalam hati kami merasa level becanda kami telah naik beberapa derajat ke tingkat yang lebih elit lagi.

Buru-buru dia masuk dan berkata, “semuanya, maaf banget nih… ini tadi temen satu kamar kosan yang nelfon, nyuruh saya cepetan pulang. Katanya sih komputernya nge-hang. Dia punya tugas makalah buat presentasi yang harus selesai sore ini. Maaf banget ya…. Permisi…”

Tanpa menunggu persetujuan, langsung dia jabat tangan kami satu-satu dan segera keluar sambil mengucap salam.

Huahahaha….. taktiknya gampang ditebak, paling-paling itu hanya alasannya saja. Kami percaya kalau tadi sebenarnya tak ada yang menelpon. Palingan Cuma bunyi alarm HP, bukan bunyi dering panggilan masuk.

Padahal sebenarnya kami kami tak pernah punya agenda tahlilan selepas Sholat Jumat. Apalagi pake yang rutin segala. Tahlilan hanya kami lakukan pada Mlam Jumat, itu pun bertempat di basecamp IMT Ciputat, bukan di kosan sepeti ini.

Semoga dia yang belum sempat kenalan itu tak kapok untuk datang lagi.

Kampung Utan, Jumat, 23.15 WIB, 28 Mei 2010

Satu Balasan ke Tahlilan Orang Gila

  1. Internet Unlimited mengatakan:

    masih perlu belajar dari master blog ini nih

    postingannya sangat informatif bro,…Terimakasih

    Bandwidth Kecepatan Internet Unlimited

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: