Di Warnet

Setelah akhirnya kedua mata tak bisa lagi kuajak kompromi, akhirnya kututup dan kuletakkan juga buku yang sedang kubaca ke lantai. Kulirik lagi buku yang tergeletak itu. ”Gerakan Mahasiswa dan Politik Kaum Muda Era 80-an”, sebuah buku karangan Denny J.A”Hmmm… buku yang menggairahkan”. Hampir empat jam aku membolak-baliknya. Pantas mataku sudah tak kuat.

Apa boleh buat, kalaupun mengikuti nafsu intelektual mungkin akan kupaksakan juga untuk melahapnya sampai habis. Tapi memang kadang antara kehendak hati tak selalu seiring dengan kesanggupan. Mataku sudah terasa berat untuk bertindak terus.
Terdengar nada dering tanda SMS masuk ke ponselku.

”besok kan anak-anak pada mau diskusi di fakultas, tapi barusan pembicara yang udah dijadwalin bilang kalo dia ga bisa. Lo aja yang ngisi ya.”.

Langung kubalas, ”ga mau. Disuruh presentasi diskusi tapi mendadak banget gini, memangnya aku siapa?! Kau kira aku ini pakar, apa?!”

”udah deh, temanya terserah lo aja deh”.

”tentang gerakan mahasiswa aja ya?’ mumpung masih hangat di pikiran, pikirku.

”ok, thanks banget ya…”

”bayar!!!”

“sialan lo!!!”

Demi keperluan penguatan modal wacana, aku memutuskan ke warnet untuk sekedar mencari data-data. Dengan mempertimbangkan waktu yang memang mepet. Aku keluar mencari warnet yang masih buka pada tengah malam seperti itu. Jalanan tampak sepi. Kulirik jam di ponsel; pukul 01.00. Pantas saja sudah sepi. Aku pikir jam berapa.

Aku masuk ke ruangan yang dipenuhi perangkat-perangkat komputer yang terlihat masih menyala. Suasana tampak beda dengan di luar. Dari tujuh perngkat yang ada, terisi empat orang yang masih asyik berselancar di dunia maya. Kucari bilik kosong diantaranya. Tepat diantara ketiga orang itu.

Awalnya aku biasa-bias saja. Tapi hanya dalam beberapa menit saja aku sudah dibuat jengkel dengan suasana ruangan itu. Sejak dari pertama aku menginjakkan kedua kakiku di ruangan ini, ketiga orang itu selalu saja mengeluarkan suara tertawaan yang begitu mengganggu. ”Berisik!!!”, gerutuku dalam hati. Empat puluh menit berjalan, ternyata gangguan-gangguan itu tak berhenti juga. Tak kuat, akhirnya aku penasaran juga apa yang sedang mereka tertawakan bahkan diantaranya ada yang sesekali menyanyi-nyanyi tak karuan.

Dengan motif ke kamar mandi yang rute-nya memungkinkan bagiku untuk bisa mengintip layar monitor mereka satu-persatu, akupun tahu kalau mereka semua sedang asik Chatting-an sambil besuka ria dengan fasilitas headset yang dengannya memungkinkan mereka berkomunikasi dengan teman di belahan daerah lain. Semakin menjadilah gerutuan dalam hatiku. Aku tak habis pikir, apanya yang lucu. Cara mereka bercandapun tak lebih dari ukuran standar untuk membuat manusia pada umumnya tertawa.

Kusibukkan lagi dengan monitor di depanku. Kubaca-baca secara sekilas data-data mengenai gerakan mahasiswa dari era Bung Tomo sampai pecahnya gelobang reormasi pada ’98 silam. Dari bilik samping, kudengar percakapan mesra yang dari caranya berbicara aku tahu kalau dia sedang menggoda lawan bicaranya yang kupastikan pastilah perempuan. Sesekali terdengar kalimat ”sayang”, bahkan ada juga yang lebih vulgar.

Dari bilik lainnya kudengar suara-suara meriah mengomentari lawan-lawan chattingnya.
Kemarin sore sewaktu aku nongkrong di warung kopi yang letaknya berdekatan dengan warnet ini, Kang Kholis, penjaga warung itu menggerutu kalau hampir tiap malam bahkan sampai dini hari dia musti bolak-balik ke warnet ini untuk mengantarkan pesanan makanan dan minuman dan juga menagih pembayaran. Dan dari Kang Kholis juga aku tahu kalau keempat orang yang sedari tadi mengganggu suasanaku itu adalah seorang mahasiswa juga, sama denganku.

Dua jam berjalan tertawaan mereka semakin menjadi. Gerutuanku dalam hatipun semakin menjadi juga. Ya mangkel, ya jenuh, ya sewot. Apa mereka tak sadar kalau mereka semua itu juga statusnya sama denganku, sebagai pengunjung biasa. Lagipula, mereka kan mahasiswa, apa tidak ada kegiatan lainnya yang lebihh bermanfaat selain menghabiskan setiap malamnya untuk ber-chatting ria tak jelas seperti itu.

Perhatianku terpecah dari tujuan semula, aku menjadi tidak konsen untuk mencari data-data yang kuperlukan. Aku lebih tertarik untuk mengamati keempat mahasiswa tersebut.

Aku sadar kalau aku memang bukanlah sosok mahasiswa ideal yang pantas menjustifikasi sebuah tingkah laku. Tapi, dari sekian mahasiswa-mahasiswa yang kukenal, mungkin baru kali ini aku menjumpai mahasiswa yang benar-benar tak karuan.

Mahasiswa-mahasiswa di kampusku terbagi menjadi dua kubu, satu kubu adalah mereka yang aktif di dnia olitik kampus dan lebih memilih menghaiskan waktunya untuk menengelamkan diri di wilayah politik praksis. Sebagian besar di wilayah regional, intern kampus. Sebagian kecilnya adalah mereka yang sudah mencoba meniti karir politik praksis di luar kampus yang lebih luas dan tentunya memiliki intrik-intrik politik yang lebih membutuhkan pengamatan yag matang.
Satu kubu yang lainnya adlah mereka yang bersikap acuh dengan gegap-gempita politik di tengah tingginya suhu politik di kampusku yang mengusung sistem student goverment. Mereka lebih memfokuskan diri pada pemaksimalan akademis. Over aktif di kuliah dan menggantungkan cita-citanya pada tingginya nilai IP (Indeks Prestasi). Untuk keempat orang mahasiswa di ruangan ini. Entahlah. Aku tak tahu mereka masuk ke golongan mana.

Sedikit-sedikit pikiranku menerawang pada isi buku yag barusan tadi kubaca. Buku yang menyoroti bagaimana mahasiswa mampu dengan hebatnya mengawal perjalanan bangsa menuju pada apa yang dicita-citakan bersama seluruh rakyat Indonesia. Namun hanya sampai di situ.
Aku tak mau menenggelamkan diri untuk mencaci orang lain. Senakal-nakalnya aku, toh masih takut juga dengan dosa. Tidak etis rasanya mengadili pola tingkah laku orang lain yang belum tentu kalau cercaanku itu benar.

Merasa bosan dan tak kuat lagi aku pun langsung cabut pulang.

Mentok!!!!

Ciputat, 29 November 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: