Asap Itu Masih Mengepul*

Based on true story

Liburan dua minggu pada semester ganjil ini aku tak pulang ke kampung. Meski hampir semua teman sekampungku memilih pulang dan aku hanya sendirian di kamar kosan. Suasana lingungan kosan begitu sepi, seperti kuburan saja.

Ada beberapa alasan yang mendasari keputusanku tak pulang ini. Pertama, ini bukan liburan semester genap yang berjangka dua bulan, tapi hanya liburan semester ganjil saja, dan itu hanya dua minggu waktunya. Kedua, daripada menghabiskan waktu tak jelas ongkang-ongkang kaki di rumah, kupikir, bukankah lebih baik kugunakan waktu yang lumayan ini untuk cari-cari pengalaman di ibu kota ini atau membaca-baca buku di luar disiplin ilmu yang kutekuni hitung-hitung menambah wawasan, mumpung libur tak terbatasi oleh jadwal kuliah. Lagipula, kalau hitung-hitungan ongkos untuk pulang pergi untuk mudik, masih lebih baik untuk bekal cari ilmu di tanah rantau, kan?

Liburan sudah berjalan satu minggu setengah. Itu artinya tinggal tiga hari lagi perkuliahan akan aktif kembali.

Sore itu aku hanya berdiam seorang diri saja di kamar dengan ditemani secangkir kopi hitam pekat dan beberapa batang kretek yang kesekian. Suasana sepi. Di luarpun tak banyak warung yang buka.

Sebenarnya, pada pagi hari itu aku sempat ke kampus, berniat menghilangkan kesuntukkan ke perpustakaan mencari buku-buku baru—perpustakaan kampusku tak tutup meski perkuliahan libur. Tapi, baru saja kubaca sepuluh lembar autoiografinya Soekarno milik Cindy Adams, entah kenapa ada perasaan tak enak. Pikiran tak bisa konsen—atau kalau dalam istilah kerennya, otak lagi BeTe abis!. Dalam keadaan demikian, jelas, membacaku takkan membekas. Kubawa buku itu ke petugas. ”Mending dibaca di kamar saja lah”.

Di sepanjang jalan menuju gerbang keluar kampus itu, banyak terpampang spanduk-spanduk terpasang di sana-sini: gambar para calon ekekutif kampus dari berbagai parpol kampus. Bukan main ramai dan besarnya spanduk-spanduk itu. Hampir memnuhi sepanjang jalan rute Perpus Utama ke gerbang keluar kampus. Memang, dalam dua minggu ke depan, kampus punya hajatan besar Pemilu Raya Kampus (PEMIRA).

Sepanjang jala ke kampus aku meggerutu, ”Haha… ternyata lagi musim mahasiswa pada belajar politik. Paling-paling ujung-ujungnya duit. Gimana mau memperjuangkan demokrasi kampus kalau untuk kampanye saja ada calon presiden yang mau-maunya jual dua sepeda motor. Palingan ntar kalo udah jadi presiden, yang ada di otaknya bagaimana caranya biar modal mereka kembali. Belum lagi para penjilat yang bertopeng relawan yang nantinya merongrong jabatan ataupun fasilitas, ngemis-ngemis minta proyekan. Itupun kalau presidennya masih lumayan. Lha kalau nggak? Palingan ya cuma leha-lehe, ngadain acara seminar ini-itu biar keliatan periodenya memang aktif…

… Munafik! Hipokrit! Bukankah mereka yang getol dalam Pemira adalah yang paling aktif mengkampanyekan Tolak Money Politics saat Pemilu Indonesia kemarin? Paling aktif demo di senayan, nuntut kampanye bersih, tolak korupsi dan profesionalitas para calon dewan. Kenyataannya? Mereka sendiri malah asik dengan isi protesan itu. Munafik seribu muka! Kemarin-kemarin biasa saja. Tapi kenapa sekarang malah pada sok akrab. Ngarepin suara? Ah…. Taik Bedil!”

Lamunanku buyar, kembali meginjak bumi ketika ternyata ada seorang teman datang masuk ke kamar. Waktu sudah menjelang maghrib.

”kok sepi? Yang lain pulang semua? gak balik, kamu?”.

Ternyata Jenal, anak Bojong, masih satu Kabupaten denganku. Empat tahun angkatan di atasku. Belum lulus, katanya sih gak ada dana buat skripsi. Makanya sekarang dia di Alfamart menempati posisi manajer. Datang nyelonong tanpa salam—ini suatu kebiasaan, bukannya tak sopan, hanya bahasa keakraban saja di lingkungan pergaulan.

”iya sepi. Daripada gak sepi? Yang lain pulang dari mulai awal liburan, kan? Sebenernya sih bete. Tapi mau balik kok males ya?. Bawa apaan kok banyak gitu?”. kulihat dia memawa dua plastik putih besar.

”oohhh… nih… biasa, dari Alfa. Dan yang ini belanjaan pakaian sama yang lain”.

”lho, kok tumben pake belanja pakain segala?”

”ntar malem mau pulang. Ikut?”

”males ah…”

”males apa gak ada dana? Ya udah, aku yang bayar ongkos bisnya. Daripada di sini gak jelas. Makan juga tiap hari palingan mie instan. Tragis!”

”waduh, beneran? Ya sudah, daripada dipaksa”

***

Sudah dua hari di rumah. Sore itu aku berkemas berniat berangkat kembali ke Ciputat malamnya. Tak ada oleh-oleh yang kubawa. Kebiasaan saat mesantren dulu: paling males buat gendong-gendong kardus banyak. Tapi si mbah ngotot, maksa menyodorkan satu kardus bekas mie instan. Apa mau dikata? ”tak baik nolak yang sudah dibungkus”, katanya.

Ketika kulihat wajah ibuku yang tampak pucat saat kupijit tubuhnya selepas maghrib, kubatalkan keberangkatanku itu. Aku tahu ibuku sakit. Umurku sudah 20 tahun dan aku hafal betul bagaimana raut mukanya saat sakit. Meski berkali-kali beliau bilang tidak saat kutanya apa sakitnya. Dan, mungkin ini jawaban kenapa dari kemarin pikiranku tak enak.

”kalau mau berangkat ya berangkat saja. Kan ada Alfi di sini..”, katanya. Alfi, adikku yang duduk di kelas tiga SMP.

”kuliah masu masih dua hari lagi kok…”

Esoknya aku ke ATM Slawi, mengambil uang yang di Transfer bapakku kemarin, bekal untuk berangkatku ke Ciputat.ada Tiga Ratus Ribu rupiah. Awalnya uang ini hendak kuambil saja nanti saat di Ciputat. Menurut pemikiranku, lebih aman seperti ini daripada menggendol uang dalam bis umum. Jaman sekarang lebih mudah menemukan pencopet ulung ketimbang menemukan kondektur yang murah hati.

Setelah itu kubawa ibuku berobat ke dokter praktek di sekitar Adiwerna. Bukan dokter sembarangan, tapi dokter China langganannya. Ibuku mempunyai penyakit kompleks di samping stroek yang di derita 15 tahun lalu dan kini tubuhnya tak berfungsi setengah sebelah kiri.

Dua Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah ludes hanya untuk lihat-lihat dan teus resep. ”Tak apa lah…”, menghibur diri. Tapi dokter ataupun ramuan reepnya itu memang ajaib. Baru saja resep itu diminum tiga kali, artinya baru satu hari, khasiatnya sudah terasa: Lagsung sembuh! Satu pelajaran tambahan: itulah bedanya berobat yang mahal dan yang murah!

Demi melihat keadaan ibuku yang sudah membaik, esok sorenya aku berkemas lagi. Tak repot. Hasil dari kerja kemarin. Bekal di dompet tinggal Lima Puluh Ribu. Bapak tak kuberi tahu soal sakit ibu kali ini. itu malah akan menambah pusing. Tak apa lah… toh 50 ribu masih bisa buat ongkos bis ke Lebak Bulus, Jakarta.

Selesai berkemas Hapeku berbunyi tanda pesan masuk. Dari pamanku. Kubaca:

”Iz, nanti malem jam 7 ada sarasehan calon dari partai anu di rumah anu. Dateng ya… lumayan lah… paling nggak 100 ribu sih dapet. Bisa buat tambah beli rokok. Hehehe….”

Aku tak mau menafsirkan maksud dari ”hehehe…” itu. Apa itu tentang duitnya, atau tentang rokoknya? Tak tau lah…

Kubalas, ”ngapunten, Um… aku udah berkemas. Malam ini mau berangkat lagi. jadi gak bisa. Ntar Ba’da Isya bisa nganter sampai Yomani, kan? Aku mau berangkat dari situ biar dapet bis langsung ke Lebak bulus. Biar gak dioper-oper gak jelas nantinya. Sekalian buat ngirit ongkos juga”.

Keberangkatan kemarin sudah kutunda, dan aku tak mau menundanya lagi. bukankah tak baik menunda-nunda sesuatu itu?

”ooohhh…. ya sudah. Kuliah sudah mulai masuk? Ya, nanti malem ke situ. Tapi Um kayaknya lagi gak bisa nambahin buat berangkat. Orderan lagi sepi”, nambahin duit, maksudnya.

***

”ukhhhh… kalau tahu begini jadinya, mending tadi naik bis dari Terminal Tegal saja”, aku melengos. Mangkel karena bis yang sudah kubayar karcisnya sejak pukul setengah Delapan ternyata berangkat pukul Sepuluh malam. Padahal penumpang udah penuh setelah setengah jam aku naik. Dua jam setengah bertahan dalam kepanasan yang menjengkelkan dalam bus yang berhenti tapi mesinnya tetap jalan.

Oleh karena keterlambatan itulah perjalananku menjadi serba tak enak. Dua bungkus Sampoerna Mild pemberian Um-ku tadi, kini tinggal sebungkus. Dalam pikiran jenuh, aku sering kian cepat merokok. Revert to smoking when under stress (kembali merokok saat pikiran stress). Apalagi pak supir di depan seenaknya saja dengan sebentar-sebentar gonta-ganti kaset yang di stel. Semakin menjengkelkan karena dudukku di depan, persis di belakang pak supir. Niat hati ingin mencairkan suasana dengan menikmati musik pun gagal.

Hiburan menghampiri ketika sampai di Cirebon saat naik sepasang pengamen pria-wanita membawakan lagu Jawa Cirebonan (ataukah Indramayuan?) musik kesukaanku dulu saat masih sekolah di Cirebon. Hasil dari penyesuaianku dengan lingkungan pergaulan yang keanyakan penduduk lokal wilayah III Cirebon (Indramayu, Cirebon dan Kuningan). Lumaya, bisa nostalgia. Ada nuansa tersendiri pada setiap musik yang ada. Romantisme sejarah lalu yang muncul di celah-celah alunan nada.

Bus menjadi ramai ketika si wanita penyanyi yang masih muda itu bergoyang. Penumpang bis berdiri ikut-ikutan bergoyang tak terkecuali kondektur. Dan aku juga. Penyanyi menunjuk-nunjuk ke jendela. Kuikuti arah tangannya. Aku jadi sadar, sedikit lagi bus memasuki Sukamandi. Sebentar lagi saatnya istirahat di Rumah Makan Sukamandi ini, pangkalan bis yang sedang kunaiki, Bis Dewi Sri.

Lagu selesai. Dua pengamen keliling mengedarkan topi lusuh. Setelah itu keduanya turun di wilayah 15 menit setelah Ciasem-Subang.

Baru saja aku hendak memejamkan mata ketika kondektur bus yang berdiri di pintu depan memanggil.

”hei… itu yang pake baju kuning, sini…”.

Tak ada yang berbaju kuning di situ kecuali aku.

”iya. Kenapa ya?”, tanyaku menghampiri. Sekuat tenaga kubuang cepat-cepat raut mukaku yang mengesankan raut muka orang bego. Dalam keadaan demikian, ini sangat perlu. Minimal mengurangi sikap meremehkannya orang yang belum kukenal.

”gak papa. Cuma mau minta tolong. Sebentar lagi kan masuk pangkalan Sukamandi…”

”terus….?”, aku menyela.

”lha, kamu duduk aja di sini, di samping supir. Ntar kalo ada yang nanya kamu keponakannya Mas Wandi apa bukan, kamu jawab aja iya, gitu ya? Gak papa. Ntar kamu ikut kita-kita makan gratis di tempat supir”

Dalam hati, Hmmm… ternyata memang benar kesimpulanku. Sopir itu bukanlah sopir yang sebenarnya. Dugaanku, si sopir yang sebenarnya sedang malas atau sedang sakit. dan bus ini dia yang menjalankan. Ini memang kerap terjadi. Dan hasil dari ”tarikan” ini nantinya dibagi sesuai dengan kesepakatan.

”oohhh… baiklah. Bagus juga kalau bisa makan gratis. Lagian, duitku memang mepet dan perut juga sudah lapar”

”hahaha….” kondektur dan supir tertawa bergilir.

Kubalas, ”hahaha… juga”.

Kongkalikong itu berjalan mulus. Tempat di Sukamandi itu selain sebagai Rumah Makan, juga sebagai pangkalan bus Dewi Sri. Pangkalan dimana setiap supir bis yang beroperasi diwajibkan melapor pada perusahaan.

Setelah Tiga Puluh Menit berhenti, bus kembali berangkat. Keluar dari pangalannya. Dalam perjalanan keadaanku dengan kondektur serta si sopir bis menjadi cair. Mula-mula si kondektur yang menyapaku.

”gimana, kenyang, kan?” kata si kondektur.

Sambil senyum-senyum kujawab, ”iya. Terima kasih ya….”

”hahaha…. memangnya kemana tujuanmu?”

”Ciputat”.

”Dari Balapulang, kan? Brug Gantung?”

Heran. Kok ya dia bisa tahu daerah rumahku.

”iya, Mas. Kok ya tahu ya?”

”ah… gimana sih. Aku kan orang daerah masjid Balapulang”

”terus….?”, aku tak sabar.

”gak kenal emangnya? Lha kok kurang ajar, masa masih deket aja gitu kok gak kenal?”

”Kalo muka sih kayaknya familiar”. Aku mencoba berbohong.

”Di Ciputat kuliah di UIN, kan? Semester berapa sudah?”, kini giliran si sopir yang bertanya.

”waduh, kok malah sampai tahu ke situ.” padahal, orang yang tahu aku kuliah bisa dihitung dengan jari. Sengaja kusembunyikan hal ini. Demi pergaulan yang tetap leluasa.

”Hahaha….. kenapa acara sarasehan semalam gak datang? Padahal lumayan. Aku saja sama dia (sambil menunjuk si kondektur) masing-masing dapet 150 ribu-an.”

Aku tambah heran. Lebih baik diam saja. Menunggu apa lagi yang akan terjadi.

”Kamu keponakannya Jamal, kan?”

”Iya”, jawabku

”memang susah kalo urusan perut, mending gak usah banyak mikir.”

”maksudnya?”. sekarang aku penasaran.

”aku itu teman akrab Pamanmu itu, Jamal. Waktu sore-sore dia SMS ngasih tahu acara sarasehan itu ke kamu, dia itu lagi di sampingku. Aku tanya, lagi ngabarin siapa? Terus dia cerita punya keponakan yang kuliah di UIN lagi alik tapi pas disuruh datang malah katanya mau erangkat malam ini.”

”dan itu kenapa tadi bis berangkatnya molor? Waduh, pantesan……”

Kembali mereka tertawa. Kemudian berkata lagi kalau mereka memahami apa yang ada di otak mahasiswa yang masih baru seperti aku ini. di mana masih belum bisa menempatkan idealismu pada tempat yang sewajarnya. Perjalanan itu kembali menyakitkan bagiku. Aku seperti sedang di telanjangi bulat-bulat oleh dua orang yangmemang sudah makan asam garam lebih daripadaku. Menurut mereka pula, acara sarasehan semacam itu yang intinya Cuma bagi-bagi duit untuk menjaring suara, harusnya kita ladeni saja tapi pas Pemilu nanti tetap urusan masing-masing hati. itu mereka tekankan sebagai hal yang baik. Supaya nanti para calon yang sudah banya keluar duit itu nantinya tidak terpilih, bisa menjadi pelajaran bagi calon-calon selanjutnya.

”Pikiranmu memang maju. Tapi kenapa tadi dengan hanya iming-iming nasi sepiring sama es teh mau aja disuruh bohong sama petugas piet di Sukamandi tadi.? Tapi ya… sudahlah…. gak usah dipikirkan….?

Kalimat terakhr itu menohok ulu hatiku. Selanjutnya kkunci mulutku rapat-rapat. Pura-pura tertidur. Pikiranku menjadi tak karuan. Semakin tak karuan ketika kudengar mereka sayup-sayup masih memperbincangkan masalah tadi.

Sesampainya di Lebak Bulus aku lega. Seperti terbebas dari ruang BK skolah setelah membolos dari jam sekolah. Benar-benar lega seperti baru saja menjalani wawancara KPK berjam-jam. Ketika hendak turun dari bis, kondektur kembali menyela.

”bis ini mau ke Ciputat langsung. Ikut aja. Ntar turun di depan kampus aja. Duitmu inggal Lima ribu, kan? Bawa lima puluh dan sudah buat bayar bis empat puluh lima libu. Daripada buat angkot mending ikut aja, deh….”

Kulihat ke seisi bis. Semua peumpang sudah turun. Kalau aku ikut sampai ke Ciputat, itu artinya hanya aku saja penumpang tersisa. Itu buruk. Aku bisa jadi ulan-bulanan mereka kembali. Tawaran itu kutolak, aku memilih turun dan melanjutkan perjalanan dengan angkutan umum D 01 ke Ciputat.

Sesampai di kosan ternyata sudah ramai. Penghuni lain sudah sampai dari kemarin. Aku masuk dengan diam. Basa-basi setelah berpisah dua minggu dari teman-temanku tak kujawab. Begitu saja: aku masuk, meletakkan tas dan langsung aku pura-pura tidur dengan pikiran masih kemana-mana tak jelas arah.

Mencibir pemilu kampus…

Pulang kampung karena ada yang menanggung ongkos…

Menolak ikut sarasehan dan akhirnya dengan suka hati berbohong demi sepiring nasi.

Astaghfirullah….

Semoga tak ada yang tahu.

*) Judul diambil dari salah satu judul antologi cerpen seorang sastrawan Tegal SN Ratmana

–Dalam sebuah perjalanan Tegal-Ciputat, pertengahan 2008

2 Balasan ke Asap Itu Masih Mengepul*

  1. blackmore mengatakan:

    membaca judulnya saya menjadi lapar..
    great gaya bahasa..

  2. muhamadmuiz mengatakan:

    Hehehehe… itu juga dapet njiplak dari judul karya orang lain kok, Mas (lihat note di bawah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: