Air Laut

Posisi kamarku di pesantren dulu membelakangi rumah mbah yai dan hanya dipisahkan oleh jalan aspal sempit. Jadi, kamarku itu letaknya berada di depan halaman rumah mbah yai yang bisa dilihat dengan jelas dari jendela kamar.

Di belakang kamarku itu ada sebuah kran yang fungsi awalnya digunakan para abdi dalem untuk mencuci motor dan mobil pengasuh ataupun untuk menyiram tanaman dan halaman untuk meredam debu kering saat mentari bersinar dengan teriknya. Akan tetapi di tangan kami para santri, kran itu beralih fungsi menjadi sumber utama keberlangsungan kehidupan kami. Dari kran itulah para santri mengambil air untuk minum. Macam-macam wadahnya, ada yang memakai botol aqua bekas, memakai ember, galon dan saya dan temen-temen kamar mengambil air itu dengan dligen besar yang sengaja kami beli dari uang kas kamar demi keperluan menyambung hidup itu.

Pemanfaatan kran itu dalam pandangan kami yang berfikir secara sederhana, mempunyai beberapa pertimbangan. Pertama, daripada repot-repot masak air di dapur pondok yang seringkali kudu ngantri lama, bukankah lebih baik memanfaatkan air kran yang sumbernya sudah jelas-jelas bersih dan pula tak mencurigakan? Kedua, para santri itu kan rawan terjangkit penyakit kanker garis miring, yang berarti “kantong kering”, jadi pemanfaatan kran itu juga sebagai wujud penghematan massal para santri. Karena yang pada awalnya mengambil air untuk minum di kran itu hanya kamar-kamar yang letaknya dekat dengan kran itu saja, selanjutnya malah hampir semua kamar seluruhnya ikut-ikutan.

Kalau dalam hal efektifitas dan efisiensi, kamar saya lah jagonya. Karena dengan ukuran dligen yang lumayan besar melebihi kapasitas galon, kami tak usah repot-repot bolak-balik mengunjal air. Palingan Cuma seminggu sekali saja tugas mengambil air secara bergilir itu berjalan. Tapi di sinilah letak tak mengenakkannnya. Stok air yang melimpah di kamarku menjadi aji mumpung para penghuni kamar lain yang masih sekompleks. Lebih lanjut, bisa dipastikan, setiap kali para santri-santri itu haus, tempat yang menajadi tujuan mereka pastilah kamar saya, kamar bernomor 02 yang terletak di pojok komplek B Darusssalam ini, bukan kran itu.

Hal ini lama-lama menjengkelkan juga. Masalahnya bukan pada pelit atau tak mau membagi rejeki pada sesama. Lagipula, Siapa orangnya yang tak mau beramal dengan diiming-imingi bidadari di surga? Lha wong perempuan-perempuan cantik di dunia saja sudah bisa bikin jantung melayang, apalagi bidadari di surga. Tetapi yang menajdi soal adalah cara mereka minum dengan berebutan itu yang tidak kami terima. Ramai-ramai datang dan berebut, bahkan tak jarang mengotori lantai. Memangnya ini kamar siapa? Begitu yang ada di pikiran kami. Kenapa juga mereka tak mau mengambil langsung dari sumbernya yang memang dekat itu. Bukankah kamar kami dan letak kran itu berdekatan?

Untuk sedikit mengurangi para peminta ini yang kian hari kian bertambah saja, teman sekamar saya mempunyai inisiatif. Dia menyediakan botol aqua bekas ukuran seliter. Galon kami simpan. Kepada mereka yang datang, kami sodorkan saja botol aqua itu. Kalaupun habis, kami sepakat untuk mengatakannya bahawa air sudah habis. Taktik ini berjalan sekitar seminggu dengan sukses berhasil mengurangi jumlah penghuni luar yang meminta air.

Namanya juga bangkai, mau disimpan seperti apa juga pasti tercium. Tapi meskipun sudah ketahuan kalau dligen kami simpan, tetap saja aqua itulah yang hanya kami tampakkan. Dliggen tetap kami simpan dalam almari kosong yang tak terpakai. Celakanya, meski sudah serapi mungkin disimpan, tetap saja saat keadaan kamar sepi, mereka tetap saja dengan diam-diam mengambil air dari dligent itu.

Tingkat kejengkelan menajadi meningkat. Puncaknya saat kami mendapati botol aqua yang tumpah ke lantai tapi tak seorangpun yang mau mengelapnya. Saat itu juga seorang teman saya yang sudah mangkel luar biasa langsung ngeloyor ke dapur dan kembali membawa segenggam garam dapur, memasukkannya ke botol aqua dan menaruhnya di atas lemari dekat pintu kamar.
Hasilnya, kami selalu saja terpingkal-pingkal setiap kali melihat penghuni kamar lain masuk dan langsung meminum dari botol tersebut. Tak peduli mau abis itu langsung muntah kek, mau lantai kotor kek, mau marah-marah kek, yang terpenting mulai saat itu kami mengadakan perayaan resmi ala kamar B.02 karena baru saja mendapat hiburan baru.

Kampung Utan, 04.20 WIB, 26 Mei 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: