Cita-Cita Seorang Milanisti Sejati Waktu Kecil; Seorang Sastrawan yang Gagal

Kalau mau blak-blakan, jujur-jujuran dengan melihat fakta secara riil, menjadi Milanisti adalah hal paling besar dalam hidupku. Mau yang lebih dahsyat lagi: AC Milan adalah agama kedua dalam hidupku. Lebih dari separuh hidup ini kulakoni sebagai Milanisti. Apapun yang menimpa klub asal kota mode Milano-Italia itu, pastilah aku rasakan juga.

Saat Milan menang, hati dan jiwa ini serasa damai. Kepuasan batin bermain dengan sangat indah., meski di saat yang sama perut ini kosong tak terisi makanan apapun.. Saat Milan kalah, seisi dunia seakan ingin kuamuk, kuobrak-abrik. Meski tak pernah kunampakan secara fisik.

Perkenalanku dengan dunia sepakbola dimulai saat perhelatan Piala Dunia 1998 silam. Saat itu aku masih duduk di kelas 3 sekolah dasar. Itulah perkenalanku sesungguhnya dengan sepak bola. Paolo Maldini dan Alesandro Nesta adalah pemain yang sangat aku kagumi. Duet mereka dalam menjaga pos bek tengah I Nerrazuri sangat mengagumkanku: seorang Muiz kecil. Sangkin ngefennya, aku sampai rela ribut dengan teman-teman sepermainan saat berkumpul menjagokan pemain idola masing-masing.

Tak berhenti di situ. Meski Piala Dunia telah usai. Kekagumanku pada dua pemain itu terus berlanjut. Kuperoleh informasi dari seorang kakak kelasku empat tingkat, Husni yang seorang Milanisti, kalau Maldini bermain di klub AC Milan dan Nesta di SS Lazio. Karena sama-sama mengidolakan pemain yang sama, kami pun menjadi akrab.

Dari situ aku mulai menggemari sepak bola dengan sepenuhnya sampai akhirnya kutekadkan, ingin, saat besar nanti menjadi pemain sepak bola professional. Tentu saja cita-cita terbesarku adalah menjadi starting line-up I Rossoneri (julukan AC Milan). Hampir setiap hari aku berlatih, bermain sepakbola setiap ada waktu luang. Berlatih dan berlatih, bahkan sendirian pun aku jalani. Di depan rumah, di pekarangan samping, hingga di dalam rumah pun masih aku paksakan. Terutama malam hari. (Ibuku sampai marah untuk yang satu ini). Bulan puasa pun tak jadi penghalang, aku ajak teman-temanku untuk bermain di malam hari sebelum ronda keliling membangunkan sahur.

Kegigihanku itu membuahkan hasil, meski baru beberapa bulan menyukai olahraga ini, aku berhasil menjadi tim inti di kampungku dengan menempati posisi bek tengah. Puncaknya saat aku berhasil membawa timku juara kecamatan dengan aku sebagai kaptennya, aku sendiri mengemas 8 gol saat itu, meski aku seorang bek tengah. Haha… aku mencatatkan namaku dalam sejarah. Karena inilah untuk pertama kalinya kampungku menyabet gelar juara. Sebuah gengsi tersendiri saat itu. Seluruh pemain di arak keliling desa setelah itu sambil mennteng piala.

Aku seperti mau mati saja, dunia seakan sedang kiamat, jantungku mau copot saat orang tuaku memberitahukan kalau aku tak mungkin menekuni olahraga itu sebagai jalan hidupku. ini berhubungan dengan pembawaanku saat lahir. Ada suatu hal yang oleh karenanya dokter memvonisku tidak bisa beraktifitas yang menguras tenaga berlebih. Meski saat ini—sekarang—aku sudah sembuh, tapi itu terlambat. Tak mungkin memulai karir sepak bola di usia 17 tahun, bukan? Aku menjadi frustasi karena itu. Sekolahku sering bolong. Pikiranku kacau. Nilaiku jeblok. Semuanya hancur.

Kelas tiga SMP aku menjalani operasi yang ke-tiga kalinya. Dalam masa penyembuhan aku tak boleh melakukan aktifitas berlari oleh dokterku selama satu tahun penih. Otomatis hobiku tamat!

Aku kerap menangis seorang diri menatap teman-temanku bermain bola dengan sesuka hati mereka. Bayangkan, seorang bocah 9 tahun tidak bisa bermain seperti yang teman-temannya lakukan.

Sebagai obat pengurang rindu, pamanku sering membawakanku majalah-majalah sepak bola: Tabloid Bola dan Soccer , yang saat itu sedang ngetrend-ngetrendnya. Aku menjadi maniak berita olahraga. Semua berita kulahap habis. Aku hafal profil para pemain di liga-liga dunia, bahkan di liga Afrika sekalipun yanbg notabene tak terkenal.

Pikiranku mulai berubah: dari cita-citaku menajdi pemain sepak bola, kemudian beralih bagaimana caranya agar aku bisa bekerja di klub AC Milan. Gairah membacaku semakin bertambah. Tiga tabloid olahraga mingguan menjadi santapan wajibku. Tak pernah absent. (ibuku sempat mengeluhkan hal ini karena anggaran dana rumah tangga yang menjadi alasan).

Pasca operasiku ketika duduk di kelas 3 SMP itu, ayahku, membelikanku Play Station yang saat itu menjadi barang mewah bagi anak-anak desa kami. Semacam boneka Barby bagi anak perempuan di lingkungan perkotaan. Aku bahagia. Tapi hanya bertahan beberapa bulan aku mulai merasa bosan. Aku butuh hiburan. Tak betah aku hanya menghabiskan waktu di kamar saja. Saat itu, ayahku berinisiatif membelikanku buku-buku cerita dan sebagian buku-buku ilmiah, filsafat, terbitan luar (ayahku tak tahu ini. Maklum beliau hanya mengenyam pendidikan nonformal di pesantren saja). Entah kenapa aku tak tahu alasannya. Mungkin agar aku tak hanya membaca majalah-majalah bola melulu. Aku masih ingat dan hafal, dari buku-buku yang dibelikan semua, aku lebih tertarik dengan buku-buku produk luar negeri, tentu saja buku terjemahan!

Inilah pelarianku dari dunia yang sesungguhnya yang kukira paling tepat. Aku pikir, pikiranku bisa mengelana ke berbagai belahan dunia meski aku harus berada di kamar terus. Perhatiankupun beralih. Ayahku sukses besar. Setelah itu justru ayahku yang kerepotan. Beliau yang bekerja di perantauan, Jakarta, kuminta mengirimkanku lagi buku. “kurang banyak!”, kataku. Seminggu kemudian aku dikirimi buku sekardus besar. Mirip kardus TV tetanggaku yang kaya itu.

Dari pengalamanku membaca, itu aku mulai berfikir, bagaimana kalau aku sekolah di luar negeri saja? Di Italia? Dan itu menjadi cita-cita baruku. Apapun akan aku lakukan demi bisa hidup berdekatan langsung dengan para punggawa klubku tercinta.

Di pesantrenku dulu, pada medio tahun 2006, pernah mengadakan semacam bedah buku yang salah satu narasumbernya adalah Acep Zam-Zam Noor, seoarang sastrawan kondang asal Tasikmalaya itu, yang kebetulan beliau adalah lulusan mahasiswa sastra Perguruan Tinggi di salah satu kota di Italia. Gairahku bertambah. Hmmm… sastra? Aku harus bisa bersekolah di sana.

Bacaanku beralih. Mendadak, aku menajdi keranjingan sastra. Ya, sastra. Uang kiriman ortuku kubelanjakan buku semua. Chairil Anwar, Acep Zam-Zam Noor, Leo Tolstoy, Soekarno, Milan Kundera adalah diantara tokoh yang paling berkesan saat itu. Dan, tentu saja JK Rowling dengan Harry Pottern-nya yang berharga selangit: 175 ribu! Aku hampir tak bisa makan satu bulan saat itu. Selama berbulan-bulan aku kerap mendatangi pameran-pameran buku: Cirebon, Bandung, ataupun wilayah Jakarta pun aku datangi. Untuk mengakali keuanganku, terpaksa aku bantu-bantu di dapur pesantren agar nafas hidupku masih berlanjut. Sesekali ke sawah kiyai sekedar dapat buah Sukun ataupun Singkong. Mengingatnya aku kerap tertawa sendiri. Aku pernah diare gara-gara Cuma makan Sukun dan Singkong selama sebulan.

Lulus Aliyah (setingkat SMA) perguruan tinggi yang pertama kali menjadi pertimbanganku adalah PT yang memiliki kredibilitas jurusan sastra yang waahhh. Sesuai informasi yang kudapat, aku pilih Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada.

Tapi, aku lalai, meski sudah kulahap buku-buku referensi mahasiswa sastra, aku melupakan pelajaran-pelajaran Aliyahku. Aku gagal di tes masuk kedua kampus itu. Terang saja aku gagal, pelajaran yang seharusnya aku pelajari lebih dulu malah aku abaikan.

Meski kesembuhanku sudah total, rasanya tak mungkin memulai karir sepakbola di usia sekarang, bukan? Apalagi gara-gara operasi itu aku kondisi badanku tak memungkinkah untuk menjadi pemain, bertarung dengan para pemain eropa yang berpostur raksasa itu.

Hingga saat ini, pergi ke negeri Italia masih menjadi impianku. Semoga tak hanya menjadi impian saja.

Jika ada yang bertanya, kenapa aku seoarang mahasiswa Ekonomi tapi kerap kedapatan memegang buku karya sastra, itulah jawabannya. Selalu ada sisa dalam setiap rasa yang terkais.

Kalau ada lowongan beasiswa ataupun lowongan kerja ke Italia, siapa saja, tolong kasih tahu…

Nb: maaf kalau tulisanku acak-acakan. Mengingat-ingat kembali tentang ini seperti membuka luka-luka lama yang belum sempat mengering.

4 Balasan ke Cita-Cita Seorang Milanisti Sejati Waktu Kecil; Seorang Sastrawan yang Gagal

  1. Kautsar mengatakan:

    cerita yang menyentuh.. sukses selalu..

  2. muhamadmuiz mengatakan:

    Hehehe…
    Thanks, Mba/Mas….

  3. otniel mengatakan:

    berjuang terus, kita harus menjadi ulat dulu sebelum menjadi kupu2…

  4. muhamadmuiz mengatakan:

    SEPAKAT!
    THANKS….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: