Gangguan Pencernaan Otak

Sudah dua pekan ini aku terserang penyakit Gangguan Pencernaan Otak (GPO). Terhitung semenjak kepulanganku dari Pare-Kediri, akhir Maret kemarin. Lima bulan penuh aku (Oktober-Maret) di sana guna memperbaiki Bahasa Inggrisku—yang konon adalah bahasa nomor satu di dunia Selama lima bulan itu waktuku hanya kuhabiskan untuk mempelajari Bahasa Inggris. Bukan yang lain. aku terbawa arus, meski pada awalnya sudah mewanti-wanti diri untuk tidak meninggalkan apa-apa yang harus terus kupelajari. pada awalnya memang berjalan, tapi selanjutnya…..

Itulah yang menjadi masalah. Dalam kurun waktu itu aku benar-benar tak menjamah buku, koran ataupun siaran berita Ekonomi, Sosial, Budaya, Politik, Sastra ataupun lainnya. Kalau bukan Grammar dan latihan mengerjakan soal-soal TOEFL, paling-paling menghafal “vocabulary”. Kalaupun membaca majalah ataupun buku berbahasa Inggris, itupun hanya untuk membiasakan bahasa Inggrisku saja. Bisa dikata, otak ini benar-benar menganggur tidak digunakan untuk menganalisa selain daripada itu.

Tekadku satu: aku tak ingin menyia-nyiakan waktu dan kesempatan ini. Meski targetku hanya lima bulan, aku ingin yang kudapat bisa melebihi mereka yang sampai setahun di sana.
(Lebay? enggak kok…)

Oleh karena itu, sekembalinya ke lingkungan kampus awal April ini untuk melanjutkan kembali studiku, aku seperti mahasiswa baru lagi yang buta dengan wacana-wacana yang ada. Bahkan pada awalnya Kasus Bank Century yang lagi booming pun aku tak tahu asal-usulnya. Rupanya, benar-benar pantas untuk divonis terserang “Gangguan pencernaan otak”.

Aku baru menyadari gangguan ini dua minggu lalu. Setelah memulai lagi rutinitasku sebagai “geng akademis”. Aku tak bisa lagi mencerna dengan baik buku-buku dan koran –koran yang kubaca. Entah kenapa. Seakan-akan aku sedang mencoba menjalankan sebuah mesin yang telah lama tidak digunakan dengan karat di sana-sini.

Puncak dari itu semua adalah kemarin, Rabu siang. Karena tak ingin gangguan ini berlarut-larut menjangkitku, aku putuskan untuk memaksakannya. Aku datang ke perpustakaan tempat dimana aku biasanya menghabiskan waktu kosongku di sela-sela jam perkuliahan. Kebetulan memang Rabu kemarin tidak ada kelas yang harus kuikuti.

Hasilnya? Tetap saja kepala ini bleng. Lima jam tanpa henti aku paksakan. Kugenjot saja. Ujung-ujungnya kepala ini panas dan pusing bukan main. What the fuck! Damn! But, I must go on my life. Never will I stop because of It, tough I must resign myself to overgoing this dying condition .

Merasa kasihan juga kalau dipaksakan, akhirnya aku bawa istirahat saja. Sepuas-puasnya! Sembilan jam aku tidur tanpa henti. Syukurlah, meski kemampuan otak ini masih belum maksimal—minimal seperti sebelumnya, aku sudah tak mengalami lagi yang namanya kepala panas ataupun pusing lagi.

Gangguan Pencernaan Otak ini sebenarnya aku rasakan juga saat aku masih baru menginjakkan kaki di Pare dulu. Karena saking jarangnya menganalisa soal-soal yang berbau hafalan (yang sering kan dulu waktu masih Aliyah) aku pun merasa kelimpungan seperti yang kualami sekarang ini. Tapi ternyata hanya masalah waktu saja. Beginning is difficult to do!

Aku ingat pelajaran yang kuperoleh dari pesantren dulu, bahwa istiqomah itu lebih baik dari seribu karomah .

Nb: Tulisan ini dibuat di tengah-tengah penggarapan makalah tugas kuliah Ekonomi Koperasi. Hanya satu tugas saja sudah dua hari belum selesai. “udah, copy-paste dari internet aja apa susahnya sih?”, kata seorang kawan. “Enggak! Dari dulu aku anti sama yang namannya copy-paste!”

Kebayoran Lama 08.20 WIB 24 Maret 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: