Dudu Kampanye. Gelem Mbusung Aku Dudu Lagi Kampanye, Yakin!

Awalnya saya ngeri untuk berkendaraan di ibukota ini. Keadaannya memang sangat berbeda. Disamping kepadatannya yang kian hari semakin memuncak, juga model jalanannya yang dua arah. Itu berarti kita dituntut melaju kendaraan bersama arus di pihak kita yang selalu berkecepatan tinggi. Siapa saja yang tak ikut arus, akan terinjak dan tertinggal debu. Melawan arus memang bukan pekerjaan gampang.

Perasaan kadang memang selalu menipu. Merontokkan kepercayaan diri akan kemampuan sebelum kita mencoba. Seiring waktu, setelah ada jarak, kemudian memikirkannya dengan lebih jernih dengan berbasis pengalaman merasakan sendiri dan kemudian membandingkan situasi lalu lintas di kampung, akhirnya sebuah kesimpulan berani saya ambil: lalu lintas di kota besar semacam Jakarta ini—dengan segala kepadatannya, kemacetannya, keriuhannya, dan kesimpangsiurannya—yang menggunakan model dua arah ini—dengan memasang batas untuk tiap arahnya—memang lebih nyaman untuk digunakan.

Kita tak perlu repot-repot khawatir kalau-kalau secara mendadak ada mobil dari arus berlawanan yang tiba-tiba muncul. Mengikuti arus memang selalu nyaman. Dan semua memang harus memiliki batas yang jelas. Kejelasan batas untuk dua arus inilah yang tidak ada di kampungku.

Sampai suatu ketika, saya sadar. Ternyata dibalik kerapian itu ada banyak borok yang melingkupinya. Ketika suatu kali saya dengan berboncengan dengan seorang teman hendak ke suatu tempat.

Di tengah perjalanan pada suatu perempatan jalan raya (bukan jalan protokol) dengan memboncengkan seorang teman (waktu itu saya yang nyetir), saya di haruskan berhenti demi lampu merah yang menyala merah. Semua berhenti dengan tertibnya. Hmmm… bisa disiplin juga rupanya.

Tapi setelah tahu tak ada polisi lalu-lintas yang bertugas di sana, sedikit demi sedikit namun pasti, segerombolan kendaraan dari arus saya melaju, tak menghiraukan nyala merah tadi. Dengan agak terburu-buru, menarik gas sedikit-sedikit, melewati garis jalan batas berhenti, secara serempak akhirnya semua jalan seperti biasa.

Keadaan tidak memungkinkan saya untuk bertahan tak mengikuti arus: berhenti sendirian sementara yang lain telah menuruti nafsu bebasnya dan di juga tak bisa bersikap cuek dengan pura-pura tak mendengar bunyi klakson yang menggebu dari belakang. Akhirnya dengan sedikit pertimbangan waktu yang menyempil di kesadaran spontan, saya pun merasa tak ada salahnya untuk mengikuti arus.
***
Di sepanjang perjalanan itu, saya jadi teringat dengan omongan salah seorang capres kita.
Suatu kali dia pernah mengeluarkan pendapat yang sebelumnya banyak disimpulkan orang pada umumnya sebagai sebuah sikap warisan rezim otoriter orde baru. “Indonesia itu harus dipaksa sebenarnya. Tidak bisa dihimbau.”, katanya waktu itu. Ketika menjawab pertanyaan seseorang mengenai bagaimana nantinya menjalankan sebuah kebijakan sementara masyarakat kita masih belum dewasa dan sedikit-sedikit demo. Seperti halnya konversi dari minyak tanah ke gas (pernah beberapa kali saya berbincang dengan ibu-ibu rumah tangga di pedesaan sewaktu mudik beberapa bulan yang lalu. Hampirkeseluruhan darinya mengakui lebih enak dalam memasak dengan menggunakan gas)
***
Dalam suasana yang penuh dengan pertimbangan “ada yang mengawasi atau tidak” memang semua orang pasti pernah merasakan. Termasuk saya sendiri. Saya senyum-senyum sendiri, teringat masa kecil dulu, sewaktu SD: merasa senang kalo Ibu saya tak memerintah belajar dan mengaji dulu sebelum keluar bermain menghampiri teman-teman setiap ba’da Maghrib. Ketika Ibu sedang sibuk dengan aktifitasnya dan tak mengingatkan dengan nada perintah pada saya, dalam hati girangnya bukan main. Itu berarti kebebasan ada di depan mata. Dengan sembunyi-sembunyi, saya lantas langsug ngeloyor keluar. Mumpung tak ketahuan. Urusan dimarahi mah belakangan.

Kadang, dengan terpaksa mengalahkan keinginan menyambut samperan teman yang memanggil-manggil dari luar mengajak bermain namun melihat Ibu yang seketika itu refleks mengingatkan rutinitas ba’da Maghrib saya, dengan perasaan yang benar-benar berat saat itu, terpaksa saya turuti juga perintah Ibu. Meski belajar hanya membuka-buka buku tanpa membacanya sambil dalam hati merasa grusa-grusu terus menghitung waktu, menanti saatnya tiba waktu yang dirasa cukup dan segera diijinkan keluar.

“Daripada esoknya gak dapet uang jajan”. Itu yang ada di pikiranku dulu. Di SD maupun di sekolah Arab (sejenis madrasah, sekolah agama sore hari setelah waktu seklah formal selesai). Tapi sekolah saya selalu rajin. Bayangkan, umur segitu sudah bisa mempertimbangkan segala sesuatunya dengan materi: Uang. Duhhh……… seorang teman pernah berkata, “tak sekolah berarti tak ada uang jajan.” Tentu saya tak harus memvonisnya dengan berkata, “sebuah adagium yang menyesatkan!”.
***
Indonesia itu harus dipaksa sebenarnya, bukan dihimbau. Warisan-warisan paternalistik masih cukup kental disana-sini. Dari lalu-lintas kita tahu kalau kita memang belumlah dewasa, sama halnya ketika kita masih duduk di sekolah dasar dulu. Maunya enak hari ini, tanpa terlintas apa yang akan kita harapkan dari “hari esok”, yang ketentuannya bergantung dari sekarang, “hari ini”.

Apa jadinya kita kalau kita hidup di lingkungan keluarga yang selalu cuek dengan kegiatan dan perkembangan kita? Apa jadinya sebuah permainan sepak bola tanpa wasit sebagai penegak peraturan? Apa jadinya lalu-lintas tak ada polisi yang berjaga? Tentu kacau!

Harus dipaksa. Selagi baik, why not?
Jalani aja dulu. Setelahnya, ambil jarak lalu pikirkan dan benahi. Karena terkadang kejernihan pikiran kita peroleh ketika kita mau dengan penuh kesadaran mengambil jarak dulu dari peristiwa tersebut untuk kemudian duduk sejenak untuk merenunginya kembali.

Bagaimana mau memikirkan negara kalau kita masih bermanja ria dengan bermacam keinginan kita? Dikit-dikit, di sana bilang Biru; di sebelahnya Merah; sebelahnya lagi Putih; sebelah itu Hitam; kanannya bilang Ungu; kirinya bilang Abu-abu; depan bilang Hijau; belakang bilang Nila, terusnya lagi semakin bermacam-macam. Yang diandalkan malah cuma bisa meng-iya-kan berdasarkan keyakinan masing-masing.

Melihatnya tentu kita muak. Akhirnya tak menginginkan apa-apa. Bahkan tak ingin untuk diam sekalipun. Karena kita terlalu normatif, berlagak menampung aspirasi dari semua. Yang penting kan menampung dan menampung.

Apa karena merasa mempunyai tameng yang selalu disucikan: demokrasi, semuanya serba bebas. Orang yang seharusnya mempunyai legitimasi membuat keputusan dan seharusnya tegas dan cerdas pun selanjutnya malah bingung sendiri.

Banyak orang menghujat pemilu yang katanya tak berbekas apa-apa. Apa berarti kita tak usah ada pemilu,? Tak usah memilih dan tak usah ada pemimpin? Banyak orang menghujat kalau politik itu kotor, pejabat gak ada yang baik. Apa berarti Negara itu tak ada gunanya sama sekali? Kalau Negara bubar, siapa yang menjamin setelahnya kita akan hidup lebih bahagia? Apa kita harus patungan dengan warga setiap kali hendak memperbaiki jalan raya, rumah sakit, rel kereta dan berbagai fasilitas pelayanan publik lainnya.

Banyak yang menghujat kampanye para calon presiden kita. Apa itu berarti tak usah lagi memilih baju yang kita beli tanpa kita tahu warna dan modelnya? Lho, lho, lho…. Katanya pengen demokrasi, pemimpin dipilih rakyat banyak? Konsekuensinya ya harus ada kompetisi dong.

Mahasiswa saja yang katanya agen perubahan tak mampu merubah UU yang sudah terlanjur disahkan, meski sudah merobohkan pintu gerbang MPR dengan demonstrasinya.

Punya banyak ide dan keresahan untuk bangsa dan berniat menyumbang? Naik dulu ke atas. Jadi pemimpin dulu. Karena iklim kita memang seperti itu. Sedang pemimpin didapat dari pemilu. Itu berarti ya kita harus kampanye dulu. Apa hanya cukup dengan memaki-maki dan meratapi pemerintah dan Ibu Pertiwi di dinding facebook? Hasilnya apa?

Jawab! Yang TEGAS!!!

Seorang teman berkata, “Kampanye yang halus. Berkata ‘saya tidak sedang kampanye di sini, ini realita.” Padahal dari pembelaannya itu, sejatinya dia sedang kampanye”.

Nah lho….?

03.47-04.09 WIB, umahe Mas Also, Pamulang, 25 Juli 2009

2 Balasan ke Dudu Kampanye. Gelem Mbusung Aku Dudu Lagi Kampanye, Yakin!

  1. masmpep mengatakan:

    potong generasi mas. oposisi dalam sistem. berbuat dari dalam. tapi jangan larut di dalamnya.

  2. muhamadmuiz mengatakan:

    Hmmm…. Cerdas juga. Seperti kalimat yang dilontarkan Abdi (Gitaris Slank) beberapa saat lalu ketika ditanya apa harapannya bagi bangsa. Abdi Slank juga pesimis pada agenda perubaha karena memang generasi kita sudah kaya gini. Dia lebih menekankan pada pemusatan pembangunan generasi selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: