Budaya Instan

mie-nenKehidupan anak kosan memang senang-senang susah. Senang karena suasana kosan yang serba bebas jauh dari segala aturan seperti halnya kehidupan di rumah. Begitu pas dengan jiwa anak muda yang selalu ingin hidup bebas. Susahnya karena segala sesuatu harus dihadapi sendiri. Hidup independen tanpa menyadarkan kemanjaan pada orang tua sebagaimana sifat alamiah seorang anak. Semua problem hidup harus bisa dihadapi sendiri. Dan yang paling menyusahkan adalah kalau pas lagi sakit. Bayangkan, disaat badan sedang tak enak untuk melakukan apapun, keadaan masih menuntut untuk mengerjakan semuanya sendiri. Masih untung bagi yang punya pacar, bisa menyandarkan diri pada kasih sayang yang deberikan sang pacar.

Dalam pada itu, satu hal yang selalu dikaitkan erat dengan mereka para anak kos-kosan. Yaitu tentang urusan perut dan lebih spesifiknya tentang pola makan. Hampir bisa dipastikan anak kosan selalu identik dengan mereka yang tak pernah memperhatikan pola makan untuk sekedar teratur. Beberapa alasan mungkin memang masuk akal. Mulai dari tugas kuliah yang numpuk; agenda organisasi yang diikuti yang selalu menuntut sebuah totalitas; kadang-kadang dan lebih seringnya, kondisi finansial yang tak menentu; dan alasan yang tak bisa dihindari adalah ketidakmampuan untuk memasak.

Dalam situasi seperti itu, untuk mengakali beberapa alasan di atas mereka mengakalinya dengan lebih sering mengkonsumsi mie instan seperti kebanyakan kehidupan di kota-kota yang sudah gencar gerakan industrialisasinya. Budaya mie instan memang bukan hal baru bagi kebanyakan anak kosan meski kadangkala juga tak jarang untuk makan di warung. Tapi dikarenakan kondisi finansial yang lebih sering tak kondusif, akhirnya mau tak mau larinya ke mie instan juga.

Saya sendiri dan juga teman-teman dikosan adalah salah satu dari kebanyakan mereka yang tidak bisa menghindar dari keberadaan mie instan. Bahkan ada salah seorang teman yang hampir setiap harinya tak pernak absen mengkonsumsi makanan tersebut. Di kosanku, memang hanya dia seorang yang paling hebat dalam hal pemaksimalan konsistensi dan loyalitas pada mengkonsumsi mie instan, sedang yang lainnya termasuk aku masihlah kalah dengannya.

Begitu akrabnya kami dengan makanan tersebut dalam keseharian. Suatu ketika ada salah seorang yang teman yang baru pulang kuliah, begitu sampai di kamar kosan dia langsung memanaskan dispenser yang tentu saja untuk membuat makanan plastikan itu. ”Belum makan dari pagi”, katanya. Tak ketinggalan penghuni kamar yang lain pun mengikutinya. Seketika itu, entah dapat ilham dari mana aku langsung berucap kalau mereka semua terjangkit virus Mie-nen. Imbuhan ”nen” (dalam literatur bahasa Tegal) merujuk pada pengertian sesuatu yang menjangkit. Semua anak yang mendengar kata yang meluncur dari mulutku itupun secara spontan melepas tawa hampir berbarengan. Sejak saat itu istilah ”mie-nen” menjadi begitu populer di kalangan anak-anak setongkrongan kami.

Hari, minggu, dan bulan pun berjalan. Semua mengikuti kaidah alam yang terus berubah Al-’alam mutaghayyar kata orang-orang pintar. Tapi anehnya istilah ”mie-nen” malah semakin popuer, seiring dengan begitu populernya budaya mengkonsumsi mie instan. Tidak hanya di sekitar teman-teman tongkronganku, istilah tersebut bahkan sudah meluas hampir ke seluruh penjuru komplek kos-kosan di sekitar kampusku. Aku yang tadinya tak pernah memikirkannya secara berlebihan kini istilah ”mie-nen” itu selalu saja mengikuti kemanapun kaki ini melangkah.

Tapi aku bukanlah orang yang meniru gaya hidup air yang mengalir tanpa identitas, aku tak mau mengkuti kehendak nafsu suasana. Aku harus mampu menghilangkan istilah itu dari otakku. Aku tak mau memikirkan sesuatu yang remeh. Tugas kuliah dan beberapa agenda BEM di fakultas saja terus menumpuk menunggu giliran pengeksekusian. Belum lagi beberapa wacana dan teori yang ingin aku ketahui dan dalami.

Setelah beberapa hari akhirnya aku bisa menjalani aktifitas seperti biasa. Pikiranku benar-benar sudah bisa melepaskan bayang-bayang istilah ”mie-nen”.

***

Rabu malam itu aku berniat menonton liga Champion Eropa. Real Madrid berhadapan Liverpool. Jam masih menunjukan pukul satu dinihari sedangkan pertandingan baru akan dimulai satu jam setengah lagi. Layar TV masih belum menentu channel TV mana yang sedang ditonton. Hampir seiap menit selalu berganti. Bolak-balik ganti akhirnya channel berhenti juga pada salah satu stasiun swasta yang sedang menyiarkan berita. Teman yang memegang kuasa saat itupun meletakkan remotnya ke lantai. Sudah menjadi aturan tak tertulis kalau hak penggantian saluran televisi ada pada siapa yang paling dulu menyalakan TV.

Seperti biasa dan sesuai situasi sekarang, sejak dari awal acara berita tersebut selalu disi dengan laporan-laporan sekitar pemilu. Sebenarnya, akhir-akhir ini aku sendiri sudah mulai jenuh dengan siaran berita yang selalu monoton dengan hampir setiap edisinya selalu dipenuhi dengan berita tentang politik. Dari mulai peta koalisi antar caleg, antar capres sampai seperti apa visi-misi para calon. Yang membuat jenuh, kenapa tidak ada satupun diantara acara siaran berita tersebut yang mau mengurusi (semisal) dunia pendidikan mengingat saat ini polemik tentang UN (Ujia Nasional) elum juga mencapai titik terang ataupun isu-isu yang lainnya. Kebanyakan dari mereka memang menenggelamkan diri dengan gegap gempita suhu politik negeri ini yang semakin tinggi.

”Membosankan” komentar salah satu teman yang rupanya sedang mengomentari sosok caleg di layar yang tampak sedang menyampaikan visi-misinya di depan ratusan simpatisannya.

”Tak apalah. Sistem negeri ini memang begitu. Siapa saja yang punya cita-cita demi perbaikan bangsa ke arah yang lebih baik memang harus berada di puncak kekuasaan dulu. Tanpa kemenangan dan posisi politik yang kuat, tak mungkin rasanya mengharapkan seuah kebijakan yang benar-benar untuk kesejahteraan rakyat”. Aku menanggapi.

”Sejak kapan kau menyukai sinetron?” balasnya.

”Maksudnya?” aku tak begitu mengerti maksudnya.

”kemarin-kemarin kau kan selalu vokal dalam hal kritik-mengkritik, kenapa sekarang menjadi afirmatif begitu?”.

”Kau ini terlalu idealis Bung. Terlalu utopis. Entah apa maumu. Kondisi bangsa ini memang mengharuskan seperti itu. Pemegang otoritas kebijakan publik hanyalah mereka yang di atas. Kita yang rakyat biasa rasanya tak mungkin diberikan ruang untuk sekedar berharap. Kau lihat saja dirimu. Apa saja cita-cita idealmu bagi negeri ini yang sudah terwujud? Hampir setiap kali kau aksi turun ke jalan menuntut sesuatu ke pemerintah, tapi tak juga menuai hasil. Kalau ingin perbaikan ya kau harus berada di atas dulu. Terakhir kali kau bedemo tentang BHP di Senayan. Tapi kau tak pernah mempertimbangkan bagaimana dilematisnya posisi pemerintah saat itu. Kau berteiak-teriak menentang agenda liberalisasi. Tapi kau tak pernah mempertimbangkan kalau liberalisasi beberapa sektor publik akhir-akhir ini hanyalah paket kesepakatan dari pinjaman yang dilakukan pemerintah pada lembaga keuangan dunia dan kesepakatan itu legal, harus di laksanakan. Bagaimana tidak dilaksanakan kalau perjanjiannya saja sudah ditandatangani sebelas tahun silam?”

Temanku itu hanya tertawa. Tapi di raut wajahnya terliha jelas kesan bahwa ia sangat ingin membalas pendapatku. ”ya sudahlah. Aku mau ke warung untuk membeli kopi dan rokok. Siapa yang mau menambahi biar dapat rokok sebungkus?”

Satu persatu mereka mengeluarkan uang. Aku kumpulkan dan menghitungnya. Ternyata hanya anak yang tadi berdebat denganku saja yang tak ikut menambahi. Aku tak tahu kantongnya sedang kering atau tidak. ”Eh, tak usah sentimen begitu lah. Waktunya patungan ya patungan. Kita kan sudah damai”. Kataku meledek.

”Bukannya apa, aku tak enak saja sama kalian. Aku tak punya uang kecil. Masa aku mau menyandingkan uangku yang merah-an itu dengan lembaran-lemaran biru seperti punya kalian? Makanya, dengan pertimbangan tak ingin semakin membuat orang-orang miskin semakin merana psikologisnya dan juga aku tak ingin semakin menampakkan sebuah kesenjangan antara yang miskin dan yang punya, lebih baik uang yang di sakuku ini tidak aku keluarkan”.

Aku tahu dia hanya bercanda. ”Sialan!!!”, gerutu yang lain. ”ayolah, kalaupun kau tak punya uang kecil, nanti juga kan ada kembaliannya. Jangan mau enaknya saja dong. Bisa dipastikan kalaupun nantinya dia (menunjuk ke arahku) kewarung saja tanpa kau ikut serta menambahi, kau pasti juga ikut menyeruput kopi dan menyulut rokoknya”. ”bilang saja tak punya duit. Kalau begitu kau saja yang berangkat ke warung!!!”

”jangan salah. Nih…” dia bereaksi sambil mengeluarkan selembar uang merahnya.

Aku pikir percuma saja kalau direngeki, gayanya malah bakal semakin menjadi. ”tadi kau bilang aku ini afirmatif, sekarang aku mau bilang kalau kau ini hanya mau enaknya saja. Pantas tuntutan demomu selalu tak berhasil. Hanya berhenti pada tataran ide filosofis belaka tanpa ada kelanjutan praksisnya. Jangan mau enaknya sajalah. Sejak kapan kau mengikuti budaya hidup instan tanpa mau bekerja dulu?” kataku.

”apa maksudnya dengan budaya instan? Aku selalu menentang gaya hidup pragmatis dan hedonis”. Dia mencoba membela diri.

”Kau tidak mau ikut patungan, berangkat ke warungpun tak mau. Tapi bisa dipastikan nantinya kau pasti ikut makan duit patungan ini. Kau ini sama saja dengan dia” Aku menunjuk ke layar televisi yang sedang mengekspos seorang calon yang sedang menarik simpati ratusan simpatisannya dengan menyampaikan visi-misinya setelah terpilih nanti. Tentang sembako murah, swasembada beras dan lain-lainnya. ”Mereka tak pernah berfikir kalau yang namanya beras murah itu sama saja mencekik petani. Kita.lihat saja, programnya saja tak jelas tapi nafsu ingin menangnya begitu besar.”

Tiba-tiba saja aku teringat kembali dengan istilah yang belakangan sudah berhasil aku singkirkan dari pikiran. ”Kau positif terjangkit virus Mie-nen. Budaya instan. Tak bedanya dengan mereka yang mencalonkan diri dengan hanya bermodalkan uang semata tanpa program yang jelas dan juga pandangan ke depan yang revolusioner tapi tetap saja ngotot ingin menang”.

9 Balasan ke Budaya Instan

  1. fartiah mengatakan:

    ih………lucu banget cih!!!! seneng deh bacanya, mw agy dunk,,,,,

  2. masmpep mengatakan:

    tak ada yang salah dengan mie. menyehatkan. bergizi. ramah di kantong. tapi orang indonesia maunya makan aja. pengonsumsi gandum terbanyak. tapi tak sebatang pun gandung di tanam di negeri yang katanya gemah ripah lohjinawi.

    jadi mas. kapan menjadi pengusaha dan petani gandum?

  3. muhamadmuiz mengatakan:

    @fartiah…
    ini Fartiah siapa ya? perasaan aku ga pernah punya temen yang namanya Fartiah.

    @masmpep…
    maunya makan tapi ga mau nanam. itukan memang karenabudaya instan sudah sedemikian parah. dalam bahasaku, mereka memang terjankit virus mie-nen.
    aduh, ga terlintas sedikitpun di kepala ini untuk menjadi petani gandum. kakek, nenek, lilik, um, uwa, lan sekabehane ya pada terjunnya di taneman padi semua. ga ada yang ke gandum. makanya pertanyaan njenengan cukup mencengangkan dan mengagetkan🙂 benar-benar tak bisa diprediksi.

  4. phii potter.poona mengatakan:

    kalo makan mie sekali-kali sih boleh mas
    tapi kalo setiap hari bisa bikin perut berantakan.
    apalagi fast food yang jadi tongkrongan mahasiswa
    setiap jam 3 ada menu paket murah
    tambah deh semua demen ma tuh makanan fast food.
    padahal mereka tahu akibat dari kebanyakan konsumsi fast food.
    hohoho🙂

    salam kenal🙂

  5. muhamadmuiz mengatakan:

    perli di ketahui di sini bahwa tujuan saya menyinggung mie instan adalah hanya sebatas pengantar untuk mengilustrasikan tentang yang instan-instan.

  6. Jalan Ketenangan mengatakan:

    hehehe, mampir baca ya mas muiz. pokoke instan lah

  7. kangmasjuqi mengatakan:

    mie instant,

    ketika salah satu teman ngajak makan,

    “juk, mangan disit yuh..”
    “mangan apa kyeh??”
    “biasa, panganan sing nggawe kanker..”

    ~sh*t.

  8. Putri Sarinande mengatakan:

    enak tuh mie instan. kan yang kurang sehat biasanya lebih menyenangkan😀
    oh, budaya instan? yah, tampaknya begitu. coba tanyakan pada bangunan mall yang megah berdendang😉
    (pleus sinetron)

  9. muhamadmuiz mengatakan:

    Tapi ko kenapa ya kita selalu bangga apabila di kampung kita mulai dibangun mall-mall besar?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: