Tentang “Banyak”

daikaijinBetapa semakin tak mengenakannya sesuatu itu ketika semakin banyak jumlahnya. Bukti? Kita sebutkan satu persatu diantaranya, saya buat sesingkat mungkin:

Bagaikan hukum Gossen II dalam logika Ilmu Ekonomi yang menyatakan bahwa semakin kita mendekati suatu puncak dalam menikmati sesuatu, maka setelahnya, yang ada hanya kemenurunan kepuasan dan kualitaslah yang akan kita dapati.

Di tengah menjalani ibadah puasa di siang hari yang panas, seakan diri berada di padang gurun pasir yang luas dan yang ada hanyalah terik sinar matahari yang begitu menyengat, kita begitu bernafsu dengan yang namanya air, kelewat haus memang. Namun saat Maghrib menjelang, setelah kita melepaskan dahaga dengan minum air sepuasnya, saat itulah intensitas kebutuhan kita akan air semakin berkurang kadarnya.

Bagaikan hukum penawaran dalam Ilmu Ekonomi lagi, yang menyatakan bahwa, semakin banyak barang yang ditawarkan oleh pedagang, semakin rendahlah harga barang tersebut, bahkan kualitasnya pun semakin menurun.

Semakin banyak seseorang mengumbar kata-kata, semakin tak berharganya martabat orang tersebut di mata kita.kalau kata SLANKnya, “Jika kata tak lagi bermakna lebih baik diam”, “kata-kata yang paling indah, gak ada yang bilang mudah”, ini berarti menyiratkan bahwa yang sedikitlah yang lebih berharga, dan “tong kosong nyaring bunyinya, klentang-klentong kosong banyak bicara, oceh sana-sini gak ada isi…”.

Saat kita bermain PS, semakin lama bukan kepuasanlah yang kita dapat, yang ada malah melalaikan kita dengan aktifitas lainnya. Kita semakin ketagihan dan keterusan. PS pun kita sewa rame-rame, dibawa ke kosan supaya bisa main rame-rame. Apa jadinya? Intensitas dari kepuasan yang kita dapat semakin berkurang oleh karena banyaknya makhluk lain yang juga ingin menikmati. Banyak makhluk lain yang ikut berpartisipasi malah semakin berkuranglah kepuasan kita. Maka tak heran kalau misalnya ada makhluk yang ketika memainkan Winning Elleven dan dia menang, kemudian pada saat akhir pertandingan, dengan berlagak bodoh justru melakukan bunuh diri yang sebenarnya menggambarkan betapa hasratnya begitu menggebu dan terlalu kelewat keterusan, sampai-sampai dia tak menghiraukan makhluk lainnya yang sedang menunggu giliran. Kemudian kita pun membuat system giliran yang mengatur supaya berjalan tertib, itupun malah semakin menambah runyam persoalan: kita semakin merasa haus akan permainan tersebut.

Begitupun realitas politik di negeri ini, mempunyai efek yang persis dengan yang namanya hukum penawaran seperti yang di atas. Kebanyakan partai politik malah semakin menambah jenuh masyarakat kita dalam menyambut hajatan besar pesta demokrasi. Golput dimana-mana. Kacau kita ini!

Dan masih banyak lagi contoh yang lain. Silahkan cari sendiri.

Saya pun menyadari, dan tak akan banyak-banyak bercakap… saya yakin ejaan tak begitu penting. Hanya muatanlah yang sebenarnya kita butuhkan.

nb: Segala yang saya ucapkan, janganlah anggap sebagai sebuah penegasan. Melainkan sebuah pernyataan untuk memulai pertanyaan yang panjang. Kita jumpa lagi lain waktu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: