Israel-Palestina, Bernafaslah, Walau Sejenak

865lSampai hari ke-18 (Rabu) agresi Israel ke Palestina telah menewaskan seribu orang lebih dan 400 diantaranya adalah anak-anak. Tak hanya pihak militer, serangan tersebut juga memakan banyak korban dari pihak sipil dan meluluhlantakkan beberapa fasilitas publik.

Sudah sewajarnya apabila dunia internasional pun mengutuk keras gencaran serangan yang dilancarkan tentara Israel yang kemudian mengkristal pada dikeluarkannya Resolusi DK PBB (1860) agar keduanya melakukan gencatan senjata. Namun, Israel semakin kesetanan dengan tidak menggubris Resolusi tersebut. Seranganpun kian gencar mereka lakukan hingga kini.

Berbagai Asumsi

Sejumlah kalangan dari seluruh dunia telah mencoba mengurai akar masalah yang sebenarnya terjadi antara dua negara tersebut. Indonesia adalah satu diantaranya. Berbagai asumsi pun terbentuk yang diyakini menjadi titik awal pertentangan yang telah memakan banyak korban jiwa tersebut.

Pertama, agama. Opini publik sudah terlanjur terbentuk meyakini bahwa konflik itu adalah disebabkan oleh unsur agama. Wajah negara Israel diyakini merupakan representasi bangsa Yahudi yang ingin merebut daerah Islam di Palestina. Bangsa Yahudi merasa mendapat mandat dari Tuhan atas ”Tanah Yang Dijanjikan”. Obsesi zionisme mulai direalisasikan di Basel, Swiss, 1897, yang dipimpin Theodore Herzl dan didukung Inggris lewat Deklarasi Balfour (1917) untuk membentuk sebuah tanah air bagi bangsa Yahudi yang tersebar di seluruh dunia (SINDO, 14/01/09).

Banyaknya tempat-tempat ibadah kaum muslim yang hancur disebabkan serangan yang membabi-buta tentara Israel semakin memperuncing opini yang berkembang bahwa pertikaian ini memang berujung agama. Apalagi serangan tersebut dilakukan pada saat warga sipil sedang beribadah. Kaum muslim di berbagai penjuru dunia pun marah. Demonstrasi-demonstrasi yang berisi kecaman pada Israel agar mau mengakhiri penyerangan digelar di berbagai tempat. Seakan dibangkitkan dari tidurnya, Bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, tak ketinggalan untuk ikut mengecam tragedi tersebut.

Namun asumsi ini semakin dipertanyakan ketika kita memikirkannya kembali, apalagi mau dengan jujur menengok kembali pada sejarah. Sejarah menjadi saksi bagaimana relasi antara Islam dan Yahudi begitu harmonis hidup berdampingan sejak awal perkembangan islam dari abad ke-7 sampai abad ke-20. banyak contoh yang bisa disebutkan untuk mendukung tesis keharmonisan dua golongan tersebut. Misalnya, dijadikannya negara-negara muslim, mulai dari Maroko, Mesir, Turki hingga Iran sebagai tempat berlindung bagi para warga Yahudi ketika terjadi pembantaian besar-besaran atas bangsa Yahudi oleh rezim Hitler yang terkenal dengan peristiwa Holocaust. Selain itu, bukankah Israel dan Palestina sendiri adalah negara yang didiami oleh tiga agama besar dunia: Islam, Yahudi, dan Kristen tanpa ada unsur dominasi dan hegemoni dari satu agama di masing-masing negara tersebut. Dan juga banyak kita temukan tokoh-tokoh pejuang Palestina yang notabene beragama Kristen. Bahkan Raymonda Tawil, ibunda mertua almarhum Yasser Arrafat sendiri adalah umat Kristiani.

Asumsi kedua, masalah politik. Pertentangan antara pihak Hamas dan Hizbullah yang tak kunjung usai diyakini menjadi salah satu unsur pertikaian yang sedang terjadi. Israel begitu berambisi untuk menghancurkan Hamas yang terbentuk pada 14 Desember 1987. Dengan bermacam-macam alasan bahkan terkesan mengada-ada, pihak Hizbullah (Israel) terus melancarkan serangan yang tak berperi. Ketidakjelasan peta politik di Palestina yang puncaknya pasca kemenangan Hamas atas Fatah—warisan Yasser Arafat yang pernah begitu dominan—pada Pemilu Legislatif Palestina 25 Januari 2006 semakin membuat Israel dengan leluasa melancarkan serangkaian serangan.

Lebih jauh, kesolidan Liga Arab pun kini tampaknya semakin berkurang dan tak mampu menghentikan serangan Israel. Keberadaan Hamas sendiri di tuding KH. Hasyim Muzadi menjadi penghalang simpati pihak Mesir, negara yang dulu memimpin Liga Arab untuk bersatu. Oleh karena Hamas sendiri adalah kepanjangan tangan dari Ikhwanul Muslimin yang didirikan di Mesir dan sekarang menjadi organisasi terlarang di negara tersebut (SINDO, 14/01/09)

Apalagi, campur tangan Amerika Serikat yang sangat nyata dalam kasus ini semakin memojokkan posisi Palestina dalam perseteruannya dengan Israel oleh karena negara adikuasa tersebut mempunyai sikap yang sinis kepada Hamas. Amerika Serikatlah yang sejak dulu mendukung Israel ketika negara itu sendirian menghadapi kekuatan Palestina yang didukung Liga Arab.

Mencari Jalan

Dilihat dari relevansi kedua asumsi tersebut, tampak nyata bahwa asumsi yang kedua memiliki bobot yang ”lebih” dalam mencari akar konflik dari perseteruan antara Israel dan Palestina yang belum juga menemui titik temu ini.

Sudah jelas, perseteruan yang berpangkal dari kebuntuan politik antara Hamas dan Israel ini telah berujung pada tragedi kemanusiaan begitu memiris hati segenap masyarakat dunia yang menjunjung tinggi harkat dan nilai-nilai kemanusiaan. Kita semua sepakat bahwa agama apapun telah dengan jelas dan tegas mengutuk segala bentuk penyerangan, kekerasan, dan pembantaian atas sesama makhluk ciptaan Tuhan, apalagi dalam hal ini adalah atas umat manusia.

Juga, tidak sepantasnya Amerika Serikat, negara yang selalu mengkampanyekan perdamaian dunia, demokrasi dan HAM justru malah memihak pihak yang sudah dengan jelas melawan apa yang mereka kampanyekan, perdamaian duna, demokrasi dan HAM. kenapa dalam perundingan DK PBB Amerika Serikat lebih memilih untuk tidak ikut mengecam serangan Israel?

Apapun alasannya, Agresi Israel adalah pelanggaran berat atas nlai-nilai kemanusiaan universal. Kehidupan adalah hak.

Maka, sudah semestinya semua pihak terutama lembaga otoritas internasional merumuskan strategi jitu, tepat, strategis serta tepat agar mau membujuk Israel dan Palestina untuk sejenak bernafas: menghentikan perang, mendinginkan suasana terlebih dahulu, agar tercipta sebuah kesepakatan yang dewasa; melakukan gencatan senjata guna dilakukan dialog bersama demi tidak berjatuhannya banyak korban lagi. Tentunya dengan tidak memberi ruang dominasi dan hegemoni dari pihak di luar dua negara tersebut yang nantinya justru memperkeruh suasana. Percayalah, apapun masalahnya kalau tidak diselesaikan dengan kepala dingin, hanya sesumbar tak bermakna yang akan terjadi.


Pojok kamar hitam, Minggu, 11 Januari ‘09

Si posting dengan tanpa editan. Males!!!

3 Balasan ke Israel-Palestina, Bernafaslah, Walau Sejenak

  1. masmpep mengatakan:

    konflik israel-palestina terasa membosankan. kalau mau pake perspektif kepentingan islam, dunia arab saja gak bersatu. oki gak bisa diandalkan. negara-negara melayu (indonesia, malaysia, brunei, cenderung moderat). capek. mengikutinya capek.

    o, ya. tegal prismatik boleh tuh diposting di blog imt. buat satu folder tersendiri. siapa tau berguna. (ojo lali nama penulisnya dicantumkan, he-he-he).

  2. muhamadmuiz mengatakan:

    membosankan memang.

    iya, untuk memposting tulisan njenengan, memang sudah kepikiran. tapi nanti. berhubung file-nya di laptop temen, dan temen saya itu sekarang lagi mudik dalam rangka liburan, jadi belum bisa dalam waktu dekat ini. itulah kenapa saya lagi belum bisa bikin tulisan lagi. ga ada komputer,jadi mau nulis juga susah. hehe…

  3. masamudamasakritis mengatakan:

    wallahi….lemahnya israel bagaikan rumah laba-laba, yg dengan mudah kita menghancurkannya. save palestina..!! wallahi billahi kejam \nya israel…..sumpah kalau kita diam atas semua ini, maka tak ada bedanya kita ama hewan yg paling hina diantara hewan yang lainnya, dan bahkan lebih hina…g masuk akal tindakan israel terhadap palestina.
    kami juga nulis artikel tentang palestina. judulnya “aku anak palestina” liat aja di sini lngng klik aja
    http://masamudamasakritis.wordpress.com/
    jgn lupa tinggalkan komentar juga ya…!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: