[Maryamah Karpov] Hok Lo Pan dan Lanun Lekat dalam Ingatan

muiz5

[Maryamah Karpov]

Hok Lo Pan dan Lanun Lekat dalam Ingatan

dari seorang teman milist Anwar

Maryamah Karpov merupakan novel terakhir yang saya baca di pengujung 2008 dan sensasinya masih terasa ketika memasuki awal 2009. Salah satu hal paling mengesankan ialah saya mendapat kosakata baru: hok lo pan dan lanun.

Apa hok lo pan itu? Itu ialah kosakata lokal yang hanya akrab di telinga penduduk kepulauan Bangka-Belitung (Babel). Begitu mendapati kata itu, saya langsung cari ke rujukan, antara lain Kamus Alan-Schmidgall, Tesaurus Eko Endarmoko, dan KBBI, hasilnya nihil. Saya bertahan untuk berusaha memahami kata eksotik itu dari dalam novel cantik itu sendiri. Tapi ternyata saya masih sulit membayangkan seperti apa kue yang bisa bikin perut orang keroncongan dari uap asapnya saja. Akhirnya saya menyerah dan minta saran Google. Hasilnya? Silakan cek sendiri. Kalau saya kasih tahu, Anda akan berhenti baca esai ini. Bila Anda bertemu dengan orang Babel, mereka bisa cerita lebih menarik dan detail apa itu hok lo pan, serta apa bedanya dengan kue yang begitu biasa dan akrab kita makan.

Bagaimana sang penulis bisa bertahan untuk mencomot kosakata setempat alih-alih menggunakan kata yang jauh lebih populer? Boleh jadi itu akal Andrea Hirata untuk menyarankan agar kosakata itu nanti dimasukkan ke kamus-kamus terkemuka bahasa Indonesia. Dia memetik kekayaan latar belakang budayanya menjadi elemen yang menghidupkan cerita. Dia mengisahkan betapa hok lo pan bikinan Lao Mi rasanya “bisa membuat lupa akan mertua” dan orang sekampung selalu berkerumun di sekitar lapaknya, yang hanya buka sebentar karena persediaannya terlalu cepat habis dan orang-orang miskin rela menabung dulu agar bisa beli.

Lanun juga dimanfaatkan Andrea secara maksimal. Kata ini terdaftar pada KBBI, namun menurut Kamus Alan-Schmidgall, merupakan serapan dari Filipina, yaitu bajak laut dari Filipina selatan, biasanya merajalela pada Juli dan Agustus, mereka bisa berlayar hingga jauh ke arah selatan di kepulauan Berau Kalimantan Timur. Sementara “Berau” sendiri tampak sangat dengan kata “berae”—dagang kelontong keliling ala Belitong.

Hok lo pan, lanun, berae merupakan tiga hal yang sulit dibandingkan dengan hal lain, membuat Maryamah Karpov memiliki sesuatu yang mudah melekat dalam hati pembaca. Agus Ekomadyo mengekspresikan pendapatnya setelah tamat baca novel itu: “Sepertinya Andrea tengah bergumam tentang realita hidup: perjuangan, cita-cita, pengembaraan, tragedi, ironi.” Tepat. Memang harus lebih sabar untuk mendapat kesan menentukan seperti itu, sebab inti cerita baru beranjak mengental bila kita sudah melampaui halaman 200 ke atas. Di halaman awal, mungkin banyak pembaca mengira-ngira, apa yang sebenarnya subjek utama novel ini bila ada begitu banyak mozaik tentang kehidupan masyarakat Melayu di pulau Belitong?

Perjuangan memang jadi warna utama novel ini. Ada sejumlah tokoh yang jelas berjuang di sini. Ayah Ikal berjuang mengatasi rasa kecewa meski pengabdiannya diabaikan perusahaan, dan tetap berusaha menjadi ayah yang tegar; dokter gigi Budi Ardiaz berjuang mendapat kepercayaan masyarakat; Arai berjuang mendapatkan istri, Mahar berjuang mempertahankan kewibawaan ilmunya, dan Ikal berjuang dengan masa depan dan berusaha menyelamatkan tambahan hatinya.

Selesai studi di Prancis, Ikal ternyata memilih pulang kampung dulu daripada langsung meniti karir. Kepulangan itu ternyata tak semulus dugaannya. Setelah masa kangen-kangenan berakhir, segera dia harus menghadapi tatapan menuntut ibunya, agar dirinya cepat-cepat menikah atau bekerja. Tapi ternyata dalam kedua hal itu dia bernasib malang. Di kampung itu dia kesulitan mendapat kerja, masih terlalu ingin melepaskan rindu pada suasana kampung, sementara pujaan hatinya, A Ling, entah ke mana. Dia sudah mencari ke segala tempat yang mungkin, tapi gadis itu tetap hilang. Yang dia lakukan akhirnya menikmati keadaan, memperhatikan budaya yang membentuk diri dan masyarakatnya, terlibat dengan seluruh kehidupan. Awalnya tampak ada isyarat bahwa Ikal akan menjadi sarjana pulang kampung, mengabdi pada masyarakat dengan bekal seluruh pengetahuan yang dia bawa dari rantau. Tapi setelah ada satu peristiwa, Ikal lebih menuruti kata hatinya, yakni mengambil risiko
untuk menyelamatkan gadis pujaannya.

Mulailah sebuah petualangan fantastik terjadi. Laskar Pelangi reuni sesudah lama masing-masing eksponennya tercerai berai ke sejumlah tempat karena memburu nasib masing-masing untuk membantu Ikal, tergulung ke dalam pengembaraan yang menghidupkan lagi hikayat, mitos, dan kebanggaan sebagai keturunan pelaut dan pejuang Melayu yang dahulu bertempur melawan armada kolonial. Demi mewujudkan persiapan ke laut berbahaya, dia tersiksa kerja serabutan, termasuk jadi pedagang kelontong keliling dan buruh tambang. Dia bahkan sampai lupa sakit giginya yang kambuh.

Upaya Andrea Hirata menghidupkan lagi hikayat kelautan di kepulauan selat Karimata dan bersambung ke laut Cina Selatan ini termasuk menarik, meskipun mudah mengingatkan pembaca kepada para perompak di laut Karibia, terutama berkat trilogi film The Pirates of Caribbean. Sebelum mempertaruhkan keberanian untuk mengalahkan ganasnya musim pasang, dia mengawali dengan keprihatinan bahwa tradisi dan keahlian menjelajah laut makin sirna di kalangan orang Melayu. Kini sisanya ialah cerita-cerita menyeramkan perihal dongeng pelaut sebagai ancaman bagi bocah bandel agar patuh pada orangtua. Laut lepas di kepulauan itu merupakan milik mereka yang ada di luar jangkauan hukum, gerombolan penyamun dan dukun, menjadi jalur tenaga kerja Indonesia ilegal yang akan menyeberang ke Singapura dan Malaysia, termasuk barang-barang selundupan.

Atas bantuan Mahar, dalam petualangan di laut dan antarpulau itu Ikal menghadapi kesulitan dan tantangan dengan menggunakan dunia sihir. Ini siasat dalam menghadapi kondisi yang sebetulnya hanya dengan nekad dia kuasai. Pengorbanan menemukan kekasih ini rupanya awal dari tragedi dan ironi yang tak dia sadari sejak awal. Tapi, kalau toh ending novel ini terlalu sedih bagi banyak orang, minimal Ikal memperlihatkan memenangkan hatinya sendiri, yaitu melakukan pengorbanan terhadap sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Memang pengorbanan dirinya sejak awal terasa tidak sesuai dengan imbalan yang dia dapat. Namun begitu, tetap ada humor, guncangan, dan absurditas yang menggoda–bahkan sampai halaman akhir. Ini membuat sejumlah pembaca bimbang; apakah jilid terakhir Laskar Pelangi ini tetap bagus sekaligus inspirasional atau lebih merupakan kisah romansa.

Keunggulan novel ini terutama ada pada kemampuan menghidupkan lagi hikayat (dongeng) dan kisah keterlibatan seseorang secara utuh baik dengan diri sendiri, dinamika masyarakat, keyakinan, bahkan menghadapi hal-hal yang tampak absurd. Meski agak berlebihan dan terkesan dipaksa, Ikal dengan cara sendiri membuktikan bahwa dirinya bisa bermanfaat. Bukankah setiap manusia ingin mendapat peran maksimal dalam kehidupan yang dia jalani? Ikal telah melakukan itu dengan baik sekaligus memperlihatkan ketabahan dalam menghadapi masa-masa sulit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: