Dari Pojok Kamar Untuk Palestina

Niru Mas Pry ah…

copy-2-of-858lTahukah kamu, Sayang, kalau saat kami tuliskan surat ini, kami masih menangis sampai sekarang? Sejak perdebatan kita di malam berhujan peluru dan mesiu itu, langit di kepala kami seakan runtuh dan tanah yang kami pijak serasa retak-retak. Kita memang patut tak bahagia sekarang. Kita layak terluka.

Kami masih menangis bukan karena kita berbeda, berselisih paham lalu berpisah seperti sekarang. Kami menangis dan masih hendak menangis justru karena kita gagal menyadari makna keberbedaan itu sendiri.

Bahwa kita begitu berbeda sejak awal, kami sadari itu merupakan sebuah keniscayaan. Tapi yang kami maksud berbeda di sini bukan karena kami kiri dan kau kanan; bukan sekedar kami lelaki dan kau perempuan, dan juga bukan karena kami fantasi dan kaulah kenyataan.

Kita berbeda dan bahkan saling berlainan karena kau adalah yang lain bagi kami dan kami pun selalu jadi yang lain bagimu. Itu juga sebabnya mengapa kami tak kan pernah mengerti dirimu bila kami masih saja menggunakan ukuran kami untuk memahamimu. Dan kami sadar kami tak kan pernah sanggup mendekatimu di sana bila kami tak beranjak dari keberadaan kami di sini.

Ya Sayang, kita ini sama-sama orang asing bagi satu sama lain sebab kami ada di seberang sini sedangkan kau di seberang sana.

Kebanyakan manusia memang tak mudah memahami keberlainan kita hal ini. Mungkin karena sepanjang sejarah manusia hingga sekarang masih diliputi mimpi akan sebuah Totalitas, sebuah Narasi Besar akan keutuhan padu nan indah yang mengatasi segenap keberbedaan dan keberlainan sesamanya.

Maka sampai di sini apakah kamu sadari Sayang, bahwa musuh kita sesungguhnya bukanlah Hitler, Soeharto, Israel, Amerika atau penjahat besar dunia lainnya yang dikecam banyak orang. Musuh manusia justru adalah hasrat manusia itu sendiri akan totalitas, akan mimpi indah ala kaum Babel yang menghendaki kesamarataan bangsa dan kebersatuan bahasa.

Dan tahukah kamu sayang, bahwa kami di sini dapat menjadi kami bukan karena hasrat akan totalitas itu sendiri. Kami sendiri bukanlah kumpulan `aku’ yang sama, baik sama secara fisik maupun fisis, dengan mengabaikan keunikan masing-masing kami. Kami justru adalah entitas masing-masing yang saling terpisah dan saling menghargai. Tiap-tiap kami adalah orang lain bagi diri kami sendiri, dan tiap orang adalah orang asing yang unik.

Yang justru membentuk masing-masing entitas tersebut menjadi kami bukan impian akan totalitas, tapi semata berdasarkan kewajiban etis. Bahwa dengan kehadiran orang lain di hadapanku, maka aku tak hanya bertanggung jawab atas diriku, tapi aku pun bertanggung jawab atasnya dan bertanggung jawab atas pertanggungjawaban orang lain itu.

Manusia memang berhutang pada Descartes saat ia menyatakan Cogito Ergo Sum. Tapi kini, kami percaya bahwa sudah saatnya pernyataan “Aku bertanggungjawab, maka aku ada” (Respondeo Ergo Sum) dikumandangkan.

Dan niscaya, mulai hari ini kita pun bertanggungjawab atas peperangan demi hasrat totalitas manusia yang sedang berkecamuk di luar sana. Kita yang tak hanya bertanggung jawab atas korbannya, tapi juga bertanggungjawab atas pertanggungjawaban pelakunya.

Sebab sekali lagi kami katakan, bahwa musuh kita manusia sesungguhnya bukanlah Hitler, Soeharto, Israel, Amerika atau entah siapa lagi nanti yang muncul di masa mendatang. Musuh manusia adalah hasrat manusia itu sendiri akan totalitas, akan mimpi indah kesamarataan dan kebersatuan yang menyingkirkan keunikan tiap-tiap manusia. Hasrat akan totalitas yang kelak merusak dan membunuh segenap potensi masa depan.

Baiklah, demi menutup surat ini aku tak perlu menjadi kami untuk sementara. Ya sayang, aku adalah orang yang sedari tadi menulis surat ini sambil membayangkan wajah kamu sekarang. Dan bayangan wajahmu itu tampak suram dari seberang sini. Tapi tak apa, toh kita memang baru beberapa kali bertemu sebelumnya atau belum pernah sama sekali malah. Wajar bila aku sedikit lupa akan wajahmu, wajah yang menghancurkan totalitasku dan membimbingku masuk dalam ketakberhinggaan yang etis.

Entah di mana kamu saat ini, aku tak tahu. Yang aku tahu, segalanya memang tak perlu menjadi runyam seperti sekarang. Maka maafkan aku yang begitu sombong menghadapimu dulu.

Dan jika kau membaca suratku ini dimanapun kau berada, maka kembalilah, Sayang. Pintu rumah dan hatiku selalu terbuka untuk kedatanganmu. Aku memang tak menghendaki kita menyatu dalam totalitas itu.

Aku… hanya ingin menjadi kekasih yang lain bagimu.

Kamar Hitam, 26 Januari 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: