Erangan Seorang Mahasiswa Urban

copy-2-of-861lOleh: Muhamad Muiz L*

Pada Sabtu (10/01/09) kemarin saya diajak seorang teman menghadiri acara diskusi Simphony Kebangsaan yang dilaksanakan di kediaman Bapak Marsinggih di Slawi. Beliau sendiri adalah penggagas berdirinya kelompok studi yang berhaluan kebangsaan dan nasionalis tersebut.

Pada acara tersebut kurang lebih dihadiri sekitar 30-an peserta. Diantaranya adalah Rektor Universitas Pancasakti (UPS) Tegal Prof. Tri Jaka dan sejumlah tokoh-tokoh nasionalis dan kebangsaan Tegal (kota/kabupaten), diantaranya juga dari Pemalang, Brebes dan Pekalongan. Peserta lainnya adalah kalangan para mahasiswa Tegal (UPS dan STAIBN) yang jumlahnya hanya beberapa saja.

Menarik dicermati di sini bahwa gairah dibeberapa kelompok diskusi yang ada di Tegal adalah mereka para generasi tua yang rata-rata umur mereka 50 tahunan ke atas. Sedangkan mahasiswanya tidak begitu tertarik dengan wilayah sense of intelectuall. Lihat saja, bisa dipastikan tidak adanya kelompok-kelompok diskusi mahasiswa yang intens pada pengasahan tradisi intelektual.

Lantas, ke mana para mahasiswa tersebut? Jawabannya adalah, mereka lebih tertarik untuk menceburkan diri ke wilayah politik praktis yang lebih pragmatis-oportunis.

Ini semua bisa dilihat jelas dengan melihat fenomena menjelang pesta demokrasi PILKADA di Tegal (baik itu kota maupun kabupaten di mana begitu jamak kita saksikan mahasiswa yang ikut-ikutan mendukung calon tertentu bahkan diantaranya menjadi tim sukses. Tidak usah disebutkan siapa dan membela siapa mahasiswa-mahasiswa tersebut.

Sebagai mahasiswa, saya menyayangkan rekan-rekan mahasiswa di daerah yang bagi saya sudah terlalu jauh menyeberang dari rel. Seharusnya, mahasiswa dapat benar-benar memerankan dirinya sebagai agent of change dan agent of control, kebijakan-kebijakan pemerintah harus dilihat dan dikritisi, latar belakang, tujuan, serta sangat penting juga pendanaannya. Tidak cukup itu tetapi secara kontinyu juga harus diawasi dan dikontrol. Dan tentu dalam kondisi saat ini adalah mampu mengawal jalannya pemilihan legislatif.

Politik praktis yang lebih cenderung mengasah manuver-manuver politik bukanlah domain (wilayah) mahasiswa yang seharusnya intens mengasah tradisi intelektual (sense of intelectuall) yang seharusnya menjadi identitas mereka. Telah terjadi trend pragmatisme yang merundung kaum muda intelektual Tegal.

Memang benar bahwa melibatkan diri ke wilayah politik praksis merupakan hak bagi setiap warga Negara, tak terkecuali bagi mahasiswa. Namun patut disayangkan ketika konsentrasi mereka sepenuhnya diarahkan pada pengasahan-penguatan maneuver-manuver politik tanpa didimbangi dengan pengasahan tradisi intelektual.

Maka bisa dipastikan untuk ke depannya Tegal tak akan mempunyai intelektual yang mumpuni yang nantinya diharapkan mampu mambawa Tegal ke peradaban yang lebih baik oleh karena para generasi mudanya tidak memiliki kematangan dalam tradisi intelektual mereka.

Dan juga juga tidaklah aneh bilamana kalaupun mereka mampu menggapai puncak kekuasaan, mereka tidak mempunyai ide dan gagasan brilian yang mampu mereka tawarkan ke publik dalam menghadapi segala permasalah bangsa yang sudah semakin akut ini.

Ada dua opini yang perlu kita refleksi bersama, yaitu; pertama, meminjam adegium David Mendell bahwa berpolitik tanpa ide dan gagasan cerdas sama dengan memimpin tanpa tanggung jawab. Ini harus dipertimbangkan lagi oleh kaum intelektual muda yang hendak berpolitik praktis. Apakah konsep, ide, dan gagasan untuk membangun pemerintah benar-benar sudah terpikirkan untuk di tawarkan ke publik.

Dalam memperbincangkan gerakan politik mahasiswa manapun ingatan kita akan tertuju pada kenangan masa lalu: era 20-an, di mana para kaum muda dan mahasiswa begitu gemilang mengawal perjalanan bangsa menuju ke perbaikan yang dicita-citakan masyarakat Indonesia.

Denny J.A (1993) pernah mengatakan bahwa keberhasilan para kaum muda dan mahasiswa pada era itu (era 20-an) adalah sebuah perjuangan membela dan membangun bangsa yang dilandasi dengan tradisi intelektual yang matang.

Menjamurnya berbagai kelompok studi seperti—diantaranya—Kelompok Studi Umum pimpinan Bung Karno dan Perhimpunan Indonesia pimpinan M. Hatta adalah ruang para mahasiswa pada masa itu untuk mengasah kematangan intelektual mereka untuk kemusian mereka transformasikan ke wilayah pergerakan yang mereka perjuangkan, yakni perjuangan merebut dan membangun tanah air.

Tokoh-tokoh seperti Bung Karno, M. Hatta, Tan Malaka, Sjahrir hanyalah sebagian contoh daripada masa itu. Yang kesemua buah-buah pemikiran mereka masih tetap relevan untuk dikaji sampai kini. Untuk yang lebih kontemporer, kita bisa menyebutkan beberapa contoh diantaranya adalah Abdurrahman Wahid (Gusdur) dan Nurcholis Madjid (Caknur).

Perjuangan politik mereka semua hanyalah pengejawantahan dari keresahan-keresahan intelektual yang mereka salami. Landasan rintisan karir mereka adalah melalui jalur intelektual. Itulah kenapa mereka tidak memiliki kecenderungan pragmatis-oportunis dan posisi politik mereka dalam lanskap nasional begitu mapan.

Sudah sewajarnya kita prihatin melihat kondisi gerakan mahasiswa di Tegal yang hanya memiliki kecenderungan ke wilayah pragmatis. Beberapa kemungkinan yang bisa diprediksi adalah eksistensi mereka tidak akan berjalan lama. Sebuah perjuangan politik yang tanpa dilandasi dengan kematangan tradisi intelektual—meminjam bahasa Denny J.A—hanyalah sebuah sekrup pada sebuah bangunan raksasa birokrasi.

Lebih dari itu, sebenarnya dunia masih merindukan kompleksitas peran kaum intelektual yang ikut serta meramaikan pesta demokrasi. Di satu sisi dia mampu berperan sebagai intelektual yang tetap mempunyai visi dan misi suci membangun dan memajukan negara. Dan di sisi lain dia mampu berperan sebagai politikus dengan gagasan-gagasan cerdas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Yang tentunya hal ini di topang dengan nilai moralitas demokrasi serta sesuai dengan apa yang pernah dikemukakan oleh William Sullivan; iktikad baik, kepercayaan, dan idealisme. Sebuah perbincangan yang cukup panjang dan memerlukan waktu lama untuk menuju sebuah absurditas intelektual politis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: