Haji Sebagai Transformasi Kebangsaan

photo-muiz5

Oleh: Muhamad Muiz L*

Dalam “Warisan Para Awliya”, Fariduddin Al-Attar menceritakan. Dahulu kala, ada seorang sufi yang hidup sekitar tahun 900 hijriyyah bernama Abdullah Mubarrak. Setelah melaksanakan ibadah haji, dia tertidur di Masjidil haram. Dalam tidurnya dia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit dan keduanya saling berbincang-bincang di dekat posisi Sang Sufi. Malaikat A bertanya, berapa orang yang melaksanakan ibadah haji tahun ini, dan berapa diantaranya yang hajinya diterima?”. Malaikat B menjawab, ”tahun ini ada enam ratus orang dan tidak ada satupun yang di terima”.

Sang Sufi tersentak kaget. Bagaimana mungkin dari sekian banyak orang yang menunaikan ibadah haji, diantaranya adalah dirinya sendiri, dengan mengerahkan segala biaya dan daya upaya, sebagian besar diantara mereka bahkan rela menempuh jarak yang begitu jauhnya, tidak ada seorangpun yang diterima di sisi-Nya. Karena merasa penasaran, sufi itupun bertanya pada malaikat, ”lalu siapa yang ibadah hajinya diterima?”. ”seorang tukang sepatu di Damaskus, Ali bin Muaffaq namanya. Meskipun dia tidak pergi haji”. Seketika itu Abdullah Mubarrak terperanjat dan langsung menuju ke Damaskus berniat menemui tukang sepatu tersebut.

Setelah sang menanyakan perihal yang menjadi keperluannya, dihadapan sang sufi tukang sepatu itu mengatakan bahwa dirinya sudah kurang lebih mengumpulkan sebagian penghasilannya selama tiga puluh tahun guna bisa memenuhi rukun islam yang lima: Haji. Namun sebelum dirinya sempat berangkat, istrinya yang pada saat itu sedang hamil, ngidam daging tetangga sebelah. Pada waktu itu istrinya merengek menginginkan daging goreng yang dimasak tetangganya karena baunya yang sampai ke rumahnya.

Akan tetapi tetangganya itu menolak permintaanya dengan memberikan alasan kalau daging yang sedang ia masak adalah daging bangkai Keledai. Dia memasak hanya untuk sekedar menghibur anak-anaknya yag sudah tiga hari tidak makan. Mendengar penjelasan tersebut, Ali bin Muaffaq tersentuh hatinya, seketika itu dia langsung pulang dan mengamil bekal hajinya kemudian diserahkannya pada janda miskin tersebut sambil mengatakan, ”terimalah uang ini untuk keperluan anda dan anak-anak anda. Inilah ibadah hajiku”. Mendengar penuturan tukang sepatu itu, Abdulah Mubarrak merasa malu. Lalu dia langsung pamit pulang dengan merenung.

Sebuah kisah klasik dan sudah banyak kalangan berulangkali mengutarakannya. Sehingga kita begitu akrab dengannya (kisah di atas). Namun tetap memiliki makna yang begitu mendalam dan masih tetap relevan sampai sekarang kalau kita mau mengartikan ”tetangga” dalam artian luas. Tetangga dalam artian kehidupan sosial di sekitar kita.

Dalam tradisi sufi, cerita di atas bisa didramatisir yang tidak perlu diuji kebenarannya. Tapi yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya dengan cerdas dan lebih dewasa dari cerita yang tersurat tersebut. Bahwa sesungguhnya Allah SWT selalu menghimbau hamba-Nya untuk bisa seimbang dalam menjaga hubungan, baik itu hubungan kita dengan Allah mupun hubungan kita dengan manusia (lingkungan sekitar).

***

Ibadah haji sebagai salah satu Rukun Islam yang kelima, sudah disyariatkan ratusan tahun yang lalu sejak zaman Nabi Ibrahim. Seluruh umat Islam di seluruh belahan bumi, pada waktu yang sama konsentrasinya tertuju pada satu titik: Ka’bah, sebagai kiblat umat Islam dalam solat, rumah Allah (baitullah). Ibadah haji hukumnya wajib bagi mereka yang mampu secara lahir maupun batin walau sekali seumur hidup. Sedangkan yang kedua, ketiga dan selebihnya adalah sunnah.

Di Indonesia sendiri, jumlah jemaah haji setiap tahunnya selalu terjadi kenaikan yang berarti. Namun, yang patut kita pertanyakan kembali adalah mengapa peningkatan yang secara kuantitatif itu tidak berbanding lurus dengan peningkatan kualitatif. Semakin banyak para ”hujjaj” di negeri ini tetapi semakin meningkat pula kemungkaran yang dilakukan. Sampai detik ini banyak penduduk indonesia yang memiliki gelar ”haji” dan ”hajjah”, tetapi banyak pula tindakan dari mereka yang tidak mencerminkan dengan gelar yang mereka sandang. Korupsi yang merugikan rakyat banyak terus meningkat. Kemiskinan, kelaparan dan anak yang putus sekolah banyak yang kurang mendapat perhatian adalah sebagian dari contohnya. Kaum mustadh’afin yang tetindas secara terstruktur dalam politik dan ekonomi semakin tenggelam dalam kehidupan yang serba susah.

Merujuk pada dalil Al-Qur’an, haji hanya wajib sekali saja, sementara rasulullah menyatakan lebih dari sekali adalah sunnah. Imam Ghazali dalam Ihya ’Ulumuddin, memberikan kritik yang cukup tajam bahwa mereka yang berangkat melaksanakan haji tidak disertai niat yang bersih, tulus, dan suci. Sehinggga di tanah suci pun banyak yang melakukan hal-hal yang secara etis bertentangan dengan ruh ibadah haji. Terlebih ketika pulang ke negara asalnya, tidak menunjukan bekas (atsar) atas ibadah hajinya. Dalam hadist rosulullah SAW, menyatakan bahwa; ”haji mabrur tidak mendapatkan balasan keuali surga”. Kemudian ada sahabat yang bertanya apa cirinya haji mabrur, rosulullah menjawab; bertutur kata baik dan membagikan makanan”. Kalau ditafsirkan secara lepas, haji mabrur itu termanifestasikan dalam kepekaan sosial, seperti tidak membohongi rakyat, peduli terhadap nasi rakyat miskin, anak-anak jalanan dan kelaparan keluarga tak mampu.

Kemudian Al-Ghazali memberikan kritik terhadap para ahlul hajj (haji berulang kali), yang hukumnya sunnah. Beliau menyebut orang-orang yang lebih antusias menjalankan haji berulang-ulang daripada memberi sedekah pada tetangganya yang menggelepar kelaparan dan hidup dalam kesengsaraan, sebagai orang yang terpedaya (ghurur) karena mengabaikan skala prioritas dalam beribadah. Dalam rspektif fikih, yusuf Qardhawi, seorang intelektual muslm kontemporer memperkenalka fikih prioritas (fiqih aulawiyat). Yaitu mendahulukan mana ibadah yang lebih diprioritaskan dan mendatangkan maslahat serta meolak mafsadah (kerusakan). Salah satunya adalah mendahulukan yang wajib daripada yang sunnah.

Atau sesuai kaidah ushul fiqhnya ”da’ul mafasid muqoddamun ’ala jalbil masholih”. Artinya, mencegah kerusakan harus didahulukan daripada berniat kebaikan. Dalam konteks ini, mengumpulkan uang demi menyelamatkan saudara yang kelaparan, memiayai pendidikan anak yang putus sekolah, memberikan lapangan kerja bagi para pengangguran adalah menolak kerusakan dan menyelamatkan kondisi bangsa yang sedang meuju kegagalan (the failed state). Sementara berangkat haji berulangkali adalah niat kebaikan yang hanya memiliki aspek ibadah spiritual individual.

Jika tawaran pemikiran ini benar-benar ditransformasikan dalam ranah praksis, melakukan pemerdayaan harta para aghniyya, maka sudah dapat dikalkulasikan berapa anak putus sekolah yang bisa kembali belajar. Berapa lapangan pekerjaan yang bisa diciptakan dengan memberika modal usaha dan para penganguran bisa terlepas dari jerat kesusahan hidup. Berapa pula warga miskin yang tidak hanya sekedar bertahan hidup namun berubah menjadi produktif, manfaat dan maslahat bagi orang lain. Itu kalau benar-benar dana haji ulang orang-orang kaya dialihkan kepada pemberdayaan kaum lemah tertindas.

Berkaca pada cerita di awal tulisan, bahwa sesungguhnya Islam sendiri dalam memberikan perintah beribadah kepada-Nya, selalu mengimbangi (dibarengi) dengan ibadah sosial. Itulah kenapa—sebagai contoh—dalam perintah menjalankan sholat, Nabi Muhammad SAW menekankan sebisa mungkin untuk berjamaah. Karena dengan berjamaah, berarti kita telah melaksanakan dua hubungan sekaligus, hubungan dengan Allah (vertikal) dan hubungan dengan manusia atau masyarakat (horizontal).

Nb: Terinspirasi dari buku “Islam Madzhab Cinta” Penerbit KUTUB (Sori, pengarange ora kelingan)

Ttd. Aku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: