DI DASAR HATIKU
Bibirmu adalah keranjang yang mengemban
Semua perjalananku
Merias baju yang kubawa dari seberang
Permukaan tempat mengendapkan erangan dan
Tangis kebahagiaa
Seperti rangkaian Melati di ranjang pengantin dan
Keranda mayat
Di dasar hatiku masih terlihat cakarmu
Membekaskan koreng dan nanah
Waskita yang dikabarkan ribuan gagak
Melayang dan menyanyikan nada duka
Goresan yang tak ammpu dihapus
Waktu
Bibirmu yang menyimpan lereng dan tebing
Kembali menjorokkanku ke jurang
Sampai kapankah berpagutan atau terserah
Langit
Yang memisahkan pelangi dan hujan? Kita
Serap tetesnya
Untuk mengompres angkuh dan ego, harga diri
Dan gengsi
ADA EMBUN MENGALIR
Ada embun mengalir dari rambutmu, ada peluh
Bergulir dari alismu. Dan suhu membeku
Melapisi pipi serta hatimu
Bulan menggigil, senyap membungkus
Langit
Dengan selimut awan. Ada burung
Menyanyikan luka
Ada sungai yang penuh oleh aliran air mata
Ada gerimis membasahi hari-harimu. Ada hujan membanjiri usiamu. Kemudian bulan
Bergeser
Mematahkan jarum-jarum jam. Seperti
Jalan raya
Hempasan rambutmu bergerak menyusuri jalan
Lalu setetres embun dingin meneters dari
Sudut matamu:
Jengkal yang selalu menyimpan semua
Keyakinan itu
MENYANGGA LANGIT
Langit adalah ruang yang merangkum
Semua
Perjalanan. Aku tak tahu bagaimana
Mendakinya
Tanpa harus memanjat atau terpelanting
Terjatuh
Seperti bumi yang menggelar alas
Tanpa dorongan langit. Atau daun
Menggugurkan diri tanpa hempasan angin yang kencang
Ingatanku masih tersimpan di laci-
Laci toko
Tersangkut di got-got jalanan
Sepi pengap
Dan tahun menjalar di leherku
Gulungan awan kemarau yang dilayangkan ke ujung
Hanya kubutuhkan untuk meneduhi hati
Atau harus kupanggil mendung, kupanggil petir
Untuk bunuh diri
Kini silaukanlah aku terik mentari dan halilintar yang
Keras
Ingin kusangga langit dengan tumpukan kertas yang sudah
Memburam
Atau kutendang semua dewa dan
Kuledakkan bumi
Debu beterbangan dan udara dipenuhi aroma
Mani
Pohon-pohon pun mengejang dan terbang
Ke langit. Antara kita adalah sebuah
Singgasana diam yang mencekam
Kediri, Januari 2010

















