Pada suatu senja tengah Desember
Aku berdiri di pintu asrama
Ketika toa menyerukan persembahan
Dan serombongan manusia lacur
Menggelar tikar di trotoar
Diantara mesin-mesin dan museum
Lalu semuanya kulihat sebagai
Penghianatan yang sopan
Seperti Kardinah dengan nanah-nanah yang kental
Kuusap nanah-nanah dan kehampaanku
Dengan lembar-lembar buku
Aku pernah sangat berdosa
Ceroboh membuka kehidupan dari sebuah peti
Langit
Tapi inilah peran yang kemudian harus
Kulakoni
Aku gila dan mengetuk pintu-pintu sahara
Seperti salik yang terasing dan kehilangan
Sanak famili. Ketika tengah Desember kembali
Menyentuhku
Dengan hujan dan gerimisnya yang turun
Berbarengan
Aku masih berdiri di pintu asrama itu
Kulihat seorang gadis mengayuh
Sepeda tua
Dan sinar perak membayang samar dari setiap
Jeruji rodanya
Kini aku tergugu mendengar jeritan-jeritan
Dalam tawaku yang sayup
Suara sungai dan desis padi di sawah
Bau tanah yang ditinggalkan hujan terakhir
Simponi pegunungan serta kerik jangkrik
Kuburan
Semuanya seperti menarik-narikku lagi
Tapi aku sudah terpasung, melemas dan
Kaku
Kuresapi setiap tawa dan
Tangisan:
Perjalanan waktu yang tersenggol-senggol
Kwali yang diisi air sumur dan comberan
Namun apakah guna waktu dan kemana
Jarum jamku akan berputar kini? Aku bermimpi
Memanjati puncak
Melewati bangkai dan tengkorak
Sejarah
Aku hidup bersama mumi-mumi
Yang telah lama mati
Sungai-sungai terus mengalir
Seperti bermuaranya hidup pada khalik
Tinggal toa yang hanya sesekali
Dibunyikan
Seekor elang biru berbelok di udara dan
Kusaksikan di atas
Sesungging senyum dari sekarat yang menyakitkan
Tegal, Oktober 2010


















Januarinya mana nih?
Selamat malam, Sahabat.