Menyembah Waktu

Di malam hening, sepertiga malam awal Ramadhan, Ia terdiam sendiri di sajadah alas Tarawihnya. Tak sepatah Dzikirpun melantun dari bibirnya.

Hatinya berkecamuk.

Berteriak, “Tuhan, aku lalai.”

Ia merasa terlalu menyucikan Ramadhan melebihi batas.  Menyembah waktu. Asing denganNya.

“Ya Tuhan, aku bersaksi bahwa Kaulah Maha Suci”, suaranya lirih. Bibirnya bergetar.

Lama ia tersujud. Menangis

Jam berdentang tiga kali.
Ia bangkit. Tak mau lagi lalai dg Sunnah utusan-Nya. “Muhammad, apapun darimu adalah wahyu”

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.