Tidak Mendidik?

30 Mei 2010

Saya menilai, temanku yang satu ini memang selektif sekali dalam beberapa hal. Semua harus dinilai dari segi manfaat dan faidah yang terkandung dalam aspek yang disentuh.

Malam itu kami berdua menonton TV. Remote control dia pegang. Berkali-kali pencat-pencet tombol ganti-ganti saluran. Berkali-kali itu pula beragam komentar muncul dari mulutnya. Ada acara TV yang katanya punya program berkelas dan begitu mendidik. Acara-acara seperti itulah yang menurutnya sangat dibutuhkan oleh bangsa ini.

Sampai pada saat TV beralih ke saluran salah satu stasiun swasta tanah air yang kerap menayangkan film anak-anak dan acara musik dangdut, dia berkomentar bahwa terlalu banyak acara TV yang tidak bermutu sering bermunculan. Dia heran, bangsa sedemikian besar kok ya masih ada saja program-program tak bermutu muncul disiarkan televisi-televisi tanah air. Kalau seperti ini terus, kapan bangsa ini maju?

“acara gak bermutu kok masih saja disiarin di TV..!” katanya.

Komentar seperti ini memang sering bermunculan dari teman-teman saya. Ketika kutanya dari segi apa dulu mereka menilai sebuah acara itu tak berkualitas, sebagian besar dari mereka umumnya tak bisa menjawab lebih lanjut dan argumen mereka hanya berputar-putar saja pada alasan “Kurang mendidik”. Tentu aku tak harus membentaknya sambil berkata: “terlalu normatif!” Baca entri selengkapnya »


Tahlilan Orang Gila

30 Mei 2010

Beberapa menit setelah Sholat Jumat kami ngumpul di Kosan Kampung Utan. Masih dengan pakaian sholat masing-masing. Di situ hadir Gus Akip, Muin, Aji, Nanang, Iskandar dan Aku sendiri. Suasana santai karena memang hari itu semuanya tak ada yang punya agenda—Jumat kemarin memang tanggal merah libur Waisak.

Bahan obrolan mengalir tak bertema, ringan-ringan saja. Tak jauh dari gurauan-gurauan remeh (tentang ini, kenapa sih hal yang biasa-biasa aja itu sering disebut “remeh-temeh”?) Ketika obrolan hampir masuk ke tema yang sedikit serius, dari luar ada suara orang memanggil dengan sebutan ganjil.

“Dusss…. Weduuussss….!”

Semuanya sempat bingung tak tahu siapa diantara kita yang pernah mendapat julukan Wedus di lain tempat. Tapi ketika Aji bangun dan menghampiri sumber suara itu kami segera tahu siapa sebenarnya pemilik nama Wedus itu. Gelak tawa segera meledak. tak ada yang menyangka kalau ternyata Aji lah orangnya. Padahal kan dia lulusan STM ADB Tegal—kalau kalian orang Tegal, pasti tahu seberapa berkelasnya siswa ADB.

Obrolan Aji dengan temannya di luar depan ini cukup pelan dan tak satu suarapun terdengar samapai ke dalam. Kemudian Aji masuk dan menggerutu. Katanya, teman satu kelasnya di Fakultas Sains & Tekhnologi itu memang kalau becanda suka kelewatan. Kerap memanggil teman-temannya dengan sebutan yang tak wajar Baca entri selengkapnya »


Di Warnet

30 Mei 2010

Setelah akhirnya kedua mata tak bisa lagi kuajak kompromi, akhirnya kututup dan kuletakkan juga buku yang sedang kubaca ke lantai. Kulirik lagi buku yang tergeletak itu. ”Gerakan Mahasiswa dan Politik Kaum Muda Era 80-an”, sebuah buku karangan Denny J.A”Hmmm… buku yang menggairahkan”. Hampir empat jam aku membolak-baliknya. Pantas mataku sudah tak kuat.

Apa boleh buat, kalaupun mengikuti nafsu intelektual mungkin akan kupaksakan juga untuk melahapnya sampai habis. Tapi memang kadang antara kehendak hati tak selalu seiring dengan kesanggupan. Mataku sudah terasa berat untuk bertindak terus.
Terdengar nada dering tanda SMS masuk ke ponselku.

”besok kan anak-anak pada mau diskusi di fakultas, tapi barusan pembicara yang udah dijadwalin bilang kalo dia ga bisa. Lo aja yang ngisi ya.”.

Langung kubalas, ”ga mau. Disuruh presentasi diskusi tapi mendadak banget gini, memangnya aku siapa?! Kau kira aku ini pakar, apa?!” Baca entri selengkapnya »


Air Laut

30 Mei 2010

Posisi kamarku di pesantren dulu membelakangi rumah mbah yai dan hanya dipisahkan oleh jalan aspal sempit. Jadi, kamarku itu letaknya berada di depan halaman rumah mbah yai yang bisa dilihat dengan jelas dari jendela kamar.

Di belakang kamarku itu ada sebuah kran yang fungsi awalnya digunakan para abdi dalem untuk mencuci motor dan mobil pengasuh ataupun untuk menyiram tanaman dan halaman untuk meredam debu kering saat mentari bersinar dengan teriknya. Akan tetapi di tangan kami para santri, kran itu beralih fungsi menjadi sumber utama keberlangsungan kehidupan kami. Dari kran itulah para santri mengambil air untuk minum. Macam-macam wadahnya, ada yang memakai botol aqua bekas, memakai ember, galon dan saya dan temen-temen kamar mengambil air itu dengan dligen besar yang sengaja kami beli dari uang kas kamar demi keperluan menyambung hidup itu.

Pemanfaatan kran itu dalam pandangan kami yang berfikir secara sederhana, mempunyai beberapa pertimbangan Baca entri selengkapnya »


Asap Itu Masih Mengepul*

30 Mei 2010

Based on true story

Liburan dua minggu pada semester ganjil ini aku tak pulang ke kampung. Meski hampir semua teman sekampungku memilih pulang dan aku hanya sendirian di kamar kosan. Suasana lingungan kosan begitu sepi, seperti kuburan saja.

Ada beberapa alasan yang mendasari keputusanku tak pulang ini. Pertama, ini bukan liburan semester genap yang berjangka dua bulan, tapi hanya liburan semester ganjil saja, dan itu hanya dua minggu waktunya. Kedua, daripada menghabiskan waktu tak jelas ongkang-ongkang kaki di rumah, kupikir, bukankah lebih baik kugunakan waktu yang lumayan ini untuk cari-cari pengalaman di ibu kota ini atau membaca-baca buku di luar disiplin ilmu yang kutekuni hitung-hitung menambah wawasan, mumpung libur tak terbatasi oleh jadwal kuliah. Lagipula, kalau hitung-hitungan ongkos untuk pulang pergi untuk mudik, masih lebih baik untuk bekal cari ilmu di tanah rantau, kan?

Liburan sudah berjalan satu minggu setengah. Itu artinya tinggal tiga hari lagi perkuliahan akan aktif kembali.

Sore itu Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.