Hari Fitri Si “Sebatang Kara”
Ia hanya berdiam seorang diri di gubug persawahan kampungnya sejak gaung takbir mulai ramai dikumandangkan. Tak kemana-mana. Tak juga untuk Sholat Ied. Ia sedang tak menginginkan apa-apa. Bahkan untuk diam sekalipun.
Sebelum petang menjemput, setelah mendengar lagu kerinduan dari suara aliran tenang air irigasi, akhirnya ia mau memaafkan matahari, bintang, bulan, angin, air, tanah, api, gunung, bising, petang, fajar, sunyi dan rindu dengan segala keterdiaman mereka selama ini.
Ia beranjak.
Ia malu dengan Ied dan Fitrahnya.
Kisah Cinta Sejati
Di akhir episode, lelaki itu menjual seluruh pahalanya Baca entri selengkapnya »
Ditulis oleh muhamadmuiz 
















