Dudu Kampanye. Gelem Mbusung Aku Dudu Lagi Kampanye, Yakin!

24 Juni 2009

Awalnya saya ngeri untuk berkendaraan di ibukota ini. Keadaannya memang sangat berbeda. Disamping kepadatannya yang kian hari semakin memuncak, juga model jalanannya yang dua arah. Itu berarti kita dituntut melaju kendaraan bersama arus di pihak kita yang selalu berkecepatan tinggi. Siapa saja yang tak ikut arus, akan terinjak dan tertinggal debu. Melawan arus memang bukan pekerjaan gampang.

Perasaan kadang memang selalu menipu. Merontokkan kepercayaan diri akan kemampuan sebelum kita mencoba. Seiring waktu, setelah ada jarak, kemudian memikirkannya dengan lebih jernih dengan berbasis pengalaman merasakan sendiri dan kemudian membandingkan situasi lalu lintas di kampung, akhirnya sebuah kesimpulan berani saya ambil: lalu lintas di kota besar semacam Jakarta ini—dengan segala kepadatannya, kemacetannya, keriuhannya, dan kesimpangsiurannya—yang menggunakan model dua arah ini—dengan memasang batas untuk tiap arahnya—memang lebih nyaman untuk digunakan.

Kita tak perlu repot-repot khawatir kalau-kalau secara mendadak ada mobil dari arus berlawanan yang tiba-tiba muncul. Mengikuti arus memang selalu nyaman. Dan semua memang harus memiliki batas yang jelas. Kejelasan batas untuk dua arus inilah yang tidak ada di kampungku.

Sampai suatu ketika, saya sadar. Ternyata dibalik kerapian itu ada banyak borok yang melingkupinya. Ketika suatu kali saya Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.