Sosiologi Ekonomi; Sebuah Pertemuan Dua Disiplin Ilmu

photo-muiz1

Oleh: Muhamad Muiz L
NIM: 107084003558

Abstrak
Apa yang tersisa dari kajian mengenai interaksi individu ketika dihubungkan dengan segala tindakan rasionalnya, jika pada kenyataanya berbagai disiplin ilmu semakin memisahkan diri dari rahim mereka: ilmu sosial. Yang notabene sebagai alat untuk membaca masyarakat dalam perkembangannya semakin terkotak-kotak ke bagian-bagian kecil dan kemudian saling memisahkan diri. Ekonomi adalah salah satunya. Akibatnya, ketajaman analisis Ekonomi, sebagai “anak kandung” dari rahim ilmu sosial, semakin kurang komprehensif. Tulisan ini mencoba memaparkan bagaimana kedua disiplin ilmu: ekonomi dan sosiologi — sebagai “anak kandung” ilmu sosial — kemudian bertemu kembali setelah sekian lama terpisah, unsur-unsur sosial sebagai bentuk cara pandang dalam memahami fenomena proses ekonomi yang ternyata di dalamnya (proses ekonomi) tidak hanya berlaku aspek-aspek ekonomi yang berdiri sendiri namun juga terdapat aspek-aspek nonekonomi (sosial) yang melatarbelakangi individu — sebagai subjek—dalam upayanya memenuhi kebutuhan. Cara pandang yang menempatkan agen ekonomi yang berdiri sendiri dan melepaskannya dari realitas sosial yang melatarbelakanginya ternyata mengalami ketumpulan dalam usahanya menganalis berbagai fenomen-fenomen yang tejadi. Sehingga dalam upayanya memahami individu secara utuh mengalami ketumpulan dalam analisanya. Tulisan ini juga adalah sebuah upaya merekonstruksi apa-apa yang telah di bahas dalam mata kuliah “Sosiologi Ekonomi” di kelas Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan. Secara umum juga mengacu pada Buku Daras “Sosiologi Ekonomi” yang ditulis seorang dosen UIN Jakarta, Pheni Chalid. Diawali dari pemaparan sekilas mengenai Ekonomi dan Sosiologi sebagai disiplin ilmu, pertemuan keduanya menjadi Sosiologi Ekonomi kemudian juga mencoba memahami para pelaku (individu subjek) dalam interaksinya: ekonomi dan sosial. Kemudian coba dipaparkan pula muatan-muatan yang terdapat pada Sosiologi Ekonomi.

Kata kunci: interaksi sosial, interaksi ekonomi, Sosiologi, Ekonomi, Sosiologi Ekonomi, Pelaku (subjek).

Pengantar
Secara historis perkembangan pemikiran Sosiologi Ekonomi antara lain disebabkan oleh berkembangnya paham-paham, pemikiran-pemikiran dan teori-teori tentang ekonomi yang melihat cara kerja sistem ekonomi dengan menekankan pula pada aspek-aspek non-ekonomi.

Salah satu dari paham-paham, teori-teori, pemikiran-pemikiran yang mendukung perkembangan Sosiologi Ekonomi tersebut adalah Paham Merkantilisme, yang berpandangan, bahwa kekayaan dianggap sama dengan jumlah uang yang dimiliki oleh suatu negara dan cara untuk meningkatkan kekuasaan adalah dengan meningkatkan kekayaan Negara.

Didalam kehidupan masyarakat sebagai satu system maka bidang ekonomi hanya sebagai salah satu bagian atau subsistem saja. Oleh karena itu, didalam memahami aspek kehidupan ekonomi masyarakat maka perlu dihubungkan antara factor ekonomi dengan factor lain dalam kehidupan masyarakat tersebut. Factor-faktor tersebut antara lain: faktor agama dan nilai-nilai tradisional, ikatan kekeluargaan, etnisitas, dan stratifikasi sosial.

Faktor-faktor tersebut mempunyai pengaruh yang langsung terhadap perkembangan ekonomi. Faktor agama dan nilai-nilai tradisional: ada nilai-nilai yang mendorong perkembangan ekonomi, akan tetapi ada pula nilai-nilai yang menghambat perkembangan ekonomi. Demikian pula dengan kelompok solidaritas, dalam hal ini yakni keluarga dan kelompok etnis, yang terkadang mendorong pertumbuhan dan terkadang pula menghambat pertumbuhan ekonomi.

Ekonomi Dan Sosiologi Sebagai Disiplin Ilmu
Pada mulanya, pada periode dominasi pemikiran-pemikiran filosofis, kegiatan ekonomi dan perilaku sosial tidak dapat dibedakan. Keduanya merupakan sebuah kesatuan. Namun seiring peradaban manusia yang semakin maju dan kompleks dengan segala variasinya, ilmu pengetahuan semakin spesifik dan terspesialisasi, ekonomi pun mulai terpisah dari ilmu sosial lainnya.

Baik Ekonomi maupun Sosiologi merupakan disiplin ilmu yang mapan. Munculnya ekonomi sebagai disiplin ilmu dapat terlihat dari fenomena ekonomi sebagai suatu gejala bagaimana cara individu atau masyarakat memenuhi kebutuhan hidup mereka terhadap jasa dan barang langka yang diawali oleh proses produksi, konsumsi dan konsumsi (pertukaran).

Dengan sendirinya dalam pemenuhan kebutuhannya atau dalam melakukan tindakan ekonomi, seseorang akan berhubungan dengan institusi-institusi sosial (dapat dikatakan: berinteraksi sosial) seperti pasar, rumah sakit, keluarga dan lainnya. Smelser mendefinisikan ilmu ekonomi: “studi mengenai cara individu atau masyarakat memilih, dengan atau memakai uang, untuk menggunakan sumber daya produktif yang dapat mempunyai alternatif untuk menghasilkan berbagai komoditi dan mendistribusikannya untuk konsumsi, sekarang atau masa depan, di antara berbagai orang dan kelompok orang dalam masyarakat.

Dalam pandangan neoklasik, mereka menilai bahwa agen ekonomi (individu subjek) adalah independent dan rasional ketika mengejar kepentingan diri, sehingga dapat memaksimalkan manfaat atau keuntungan. Dalam konteks ini (ekonomi) uang dijadikan alat analisis yang dipakai untuk menjelaskan dan menganalisis individu. Dengan menggunakan uang sebagai alat analisis, hasil yang dicapai dari analisis tersebut menjadi eksak dan terukur. Meski penjelasan yang didapat masih bersifat materil saja.

Uang sebagai tolak ukur ternyata menemukan signifikansinya ketika ditempatkan pada wilayah praktek — dengan berasumsi individu sebagai independent rasional ketika mengejar kepentingan diri. Dideskripsikan dalam logika dalam berbisnis, yang dalam prakteknya selalu mengusahakan pilihan terbaik agar seseorang (pebisnis tersebut) memperoleh uang sebanyak-banyaknya. Disini tolak ukur yang digunakan dalam menilai kesuksesan seseorang di mata masyarakat adalah uang.

Sedangkan sosiologi merupakan disiplin ilmu yang berkembang manakala masyarakat menghadapi ancaman terhadap hal-hal yang memang sudah seharusnya demikian, benar, dan nyata.

Kelahiran sosiologi berawal dari Eropa Barat di mana terjadi proses-proses perubahan seperti pertumbuhan kapitalisme pada akhir abad ke-15; perubahan-perubahan di bidang sosial dan politik perubahan yang berkenaan dengan reformasi Martin Luther, meningkatnya individualisme; lahirnya ilmu pengetahuan modern berkembangnya kepercayaan pada diri sendiri, dan revolusi industri pada abad ke-18 seerta revolusi Perancis.

Meskipun sosiologi juga menempatkan manusia dan masyarakat sebagai objek material — bersama dengan ekonomi — namun ia (sosiologi) memiliki perangkat dan wilayah analisis yang berbeda dengan ilmu ekonomi. Sosiologi berusaha memberikan kategorisasi, diferensiasi, simplifikasin dan generalisasi terhadap fakta sosial yang diamati. Dengan demikian dapat disusun variabel-variabel yang dapat dioperasionalisasikan dalam analisis. Elemen-elemen observasinya berupa regularitas, orientasi sosial individu dan kelompok, struktur sosial, sanksi-sanksi, norma-norma, dan nilai-nilai.

Berbeda dengan ekonomi, variable yang dikembangkan sosiologi tidaklah eksak, pasti atau terukur. Bukan sebuah kalkulasi dari sebuah mekanisme. Karena itu, saat menghubungkan antara variable dalam sosiologi memiliki titik rawan yang berlainan tatanannya. Untuk sebuah variable terikat, jenis yang menjadi variable bebasnya tidak bisa ditentukan kemutlakannya.

Konsentrasi pandangan sosiologi begitu berbeda dengan ekonomi. Jika ekonomi memandang fenomena pola hubungan antar individu dengan mengaitkannya dengan aspek aktivitas ekokomi yang berhubungan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi (kalkulasi mekanis), maka sosiologi memandang interaksi ekonomi individu atau dan masyarakat dalam spectrum yang lebih luas.fokus sosiologi adalah memehami aspek-aspek sosial yang melandasi subjek dalam memilih orientasinya ketika berhubungan dengan masyarakat.

Sosiologi Ekonomi
Sosiologi Ekonomi mempelajari berbagai macam kegiatan yang sifatnya kompleks dan melibatkan produksi, disribusi, pertukaran dan konsumen barang dan jasa yang bersifat langka dalam masyarakat.

Jadi, fokus analisis untuk Sosiologi Ekonomi adalah pada kegiatan ekonomi, dan mengenai hubungan antara variable-variabel sosiologi yang terlibat dalam konteks non-ekonomis.

Pola dan sistem yang berlaku dalam mekanisme pasar — interaksi ekonomi yang dilakukan antar individu dan masyarakat — sebenarnya berawal dari hubungan yang sederhana antara individu dan masyarakat (interaksi sosial) dalamrangka mengatasi kelangkaan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa, ekonomi tidak dapat dipisahkan dari aspek sosial. Bahkan aktivitas ekonomi selalu melekat dalam sosialitas tempat kejadian ekonomi itu berlangsung. Begitupun berlaku yang sebaliknya.

Sebagai misal mari kita ulas sejenak pandangan sosiologi terhadap fenomena proses produksi dan proses distribusi. Proses produksi dan proses distribusi dengan berbagai analisa yang digunakan disiplin ekonomi ternyata masih mempunyai sisa untuk dipandang dari segi lain oleh disiplin ilmu lain: sosiologi.

Proses produksi dalam pandangan sosiologis ternyata memiliki peran yang cukup vital dalam rangka mempertahankan eksistensi (keberadaan) sebuah masyarakat. Proses produksi dilihat sebagai institusi ekonomi berperan untuk mengadakan kebutuhan-kebutuhan ekonomis sebuah masyarakat. Oleh karena itu, proses produksi tidak hanya dilihat dari segi ekoomis tetapi juga sosiologis yang mempunyai peran subsistem dalam sebuah struktur masyarakat.

Dalam proses distribusi atau pertukaran terlihat proses relasi antara rumah tangga produksi dan rumah tangga konsumsi. Sebenarnya bukan dalam hal distribusi barang hasil produksi saja proses ini terlihat tetapi ketika rumah tangga konsumsi menyediakan faktor-faktor produksi pun proses ini sudah terlihat yaitu distribusi faktor-faktor produksi yang meliputi: sumber daya alam, sumber daya manusia, dan modal. Dengan mencermati proses distribusi kita bisa melihat secara sosiologis bagaimana kegiatan masyarakat berkegiatan dalam bidang ekonomi. Dalam proses inilah yang merupakan relasi antara permintaan dan penawaran kita semakin melihat manusia sebagai makhluk ekonomis dan juga makhluk sosial.

Ekonomi dan Faktor-faktor Sosial
Beberapa aspek sosial yang bisa dijadikan acuan dalam melakukan analisis yang mempengaruhi perilaku ekonom oleh individu adalah agama dan nilai-nilai tradisional, ikatan kekeluargaan, dan etnisitas.

Dalam perkembangan dunia menuju modern yang semakin menjauh dari “nilai”, aspek-aspek sosial tersebut mendapat serangan yang begitu dahsyat dari para teoritisi modernis. Aspek-aspek tersebut dituding sebagai faktor yang menghambat pertumbuhan industrialisasi. Tetapi, kenyataannya serangan tersebut tidak sepenuhnya terbukti.

Beberapa penelitian tentang agama dan nilai-nilai tradisional dan budaya local memperlihatkan betapa kedua hal tersebut menjadi pendorong bagi kemunculan kapitalisme. Dalam sekte Calvinis Agama Kristen terbukti bahwa agama tersebut selalu menekankan pada para pengikutnya dengan menekankan untuk bekerja keras dan hidup hemat, dan itu merupakan bagian dari etika Sekte Calvinis tersebut. Kemudian di Jepang dan di Indonesia pun terdapat kenyataan bahwa kaum agamawanlah yang pada kenyataannya memiliki semangat berlebih dalam melakukan interaksi ekonomi. Ikatan kekeluargaan dan etnisitaspun tak terlepas dari kecaman kaum modernis tersebut. Disebutkan bahwa keduanya merupakan faktor yang juga menghambat pertumbuhan ekonomi. Namun statemen tersebut masih saja menemukan kejanggalan.

Familiisme atau sumberdaya keluarga memililki kontribusi terhadap perkembangan ekonomi seperti kelahiran kapitalisme Cina. Meskipun dalam kaca mata ekonomi, ikatan kekeluargaan juga memberikan efek negative terhadap kemajuan ekonomi. Sebab, akan menempatkan antar individunya dalam “lingkaran setan” loyalitas yang pada hokum kalkulasi rasional ekonomi.

‘Embeddedness’ Ekonomi Dan Perilaku Sosial
Inti dari pendekatan sosial terhadap transaksi ekonomi adalah tindakan-tindakan ekonomi dilihat sebagai fenomena yang melekat dan tidak dapat dilepaskan begitu saja dengan aspek sosial yang melingkupinya. Dengan demikian ekonomi tidak dapat dianalisis berdiri sendiri sebagai suatu hal yuang otonom, tanpa melihat aspek lain yang mempengaruhinya. Untuk selanjutnya perspektif ini disebut sebagai teori embeddedness (kemelekatan).

Adanya kelangkaan suatu barang yang menjadi kebutuhan manusia,membuat manusia semakin berhati-hati dalam menentukan pilihan tindakan. Manusia semakin bergerak ke tindakan yang semakin efesien dan efektif dengan penuh pertimbangan rasional. Dialektika (pergulatan menemukan sintesa) perjalanan manusia dalam hubungannya dengan suatu situasi yang menuntut pertimbangan matang, merupakan proses konstruksi sosial terhadap kasus ekonomi..

Penutup
Sebuah kenyataan dihadapkan pada para pengambil kebijakan ekonomi dalam mengamati “proses” ekonomi suatu masyarakat sebelum memutuskan untuk mengambil tindakan. Satu hal yang mesti ditekankan dalam konteks ini adalah bahwa proses menuju perbaikan ekonomi tidak bisa begitu saja dipahami dengan sebuah perhitungan eksak.

Agenda untuk memasyarakatkan teknologi di kawasan pedesaan mungkin tidak sepenuhnya didasarkan pada analisa ekonomi bahwa mereka (warga desa) akan senantiasa menerimanya dengan terbuka. Di sini berlaku hukum dari nilai-nilai tradisional. Logika yang bermain dalam konteks ini adalah, bahwa ekonomi agraris merupakan tulang punggung para petani di kawasan tersebut dan mereka tidak mau berspekulasi dengan mencoba-coba. Kegagalan dalam berproduksi (bertani) bagi mereka berarti juga merupakan kegagalan berkonsumsi.

Hal ini semakin menegaskan kita pada uraian yang telah disebutkan di atas. Pertemuan antara dua disiplin ilmu: sosiologi dan ekonomi, semakin mendapatkan tempatnya di tengah perjalanan peradaban manusia yang semakin kompleks ini.

Ttd. Aku

3 Balasan ke Sosiologi Ekonomi; Sebuah Pertemuan Dua Disiplin Ilmu

  1. masmpep mengatakan:

    menarik. sosiologi ekonomi. ada beberapa hal mungkin dapat melengkapi.
    1. soal merkantilisme tepat seperti yang anda tulis. kekayaan negara diukur dari persediaan devisa. devisa diperoleh dari selisih antara impor dan ekspor. ekspor ternyata tak cukup membuat suatu negara menjadi kaya dalam waktu singkat. karena itu derivasi dari merkantilisme adalah kolonialisme.
    2. manusia adalah homo economicus sekaligus zoon politicon. saya kira anda menggunakan paradigma marxian ketika menyebut faktor produksi memengaruhi struktur dan sistem sosial. dari tesis ini kemudian lahir teori-teori marxian yang ‘seksi’: konsep kelas, kepentingan kelas, dan perjuangan kelas.

  2. muhamadmuiz mengatakan:

    1. Tepat seperti yang diutarakan Bung Hatta, bahwa logika peningkatan ekspor untuk menyejahterakan rakyat sama saja memutar pangkal menjadi ujung: logikanya benar-benar terbalik dan itu sama saja dengan sadar meneruskan warisan kolonial penjajah: baik itu Belanda maupun Jepang. lihat saja, jaman dahulu tidak ada satupun kita temukan pabrik tekstil di nusantara.
    2. namun tidak sepenuhnya (dalam artian secara utuh) saya menggunakan “Marxian Aprroach”. Seperti di ketahui bayak pihak, dari paradigma Weberian pun memang begitu.
    Maturnuwn buat masukannya…
    Salam Hangat…

  3. zaky mengatakan:

    pa bagus artikelnya. saya mau minta izin.mau memasukan tulisan bapa kedalam penelitian saya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: