2 Oktober 2009
Hari Fitri Si “Sebatang Kara”
Ia hanya berdiam seorang diri di gubug persawahan kampungnya sejak gaung takbir mulai ramai dikumandangkan. Tak kemana-mana. Tak juga untuk Sholat Ied. Ia sedang tak menginginkan apa-apa. Bahkan untuk diam sekalipun.
Sebelum petang menjemput, setelah mendengar lagu kerinduan dari suara aliran tenang air irigasi, akhirnya ia mau memaafkan matahari, bintang, bulan, angin, air, tanah, api, gunung, bising, petang, fajar, sunyi dan rindu dengan segala keterdiaman mereka selama ini.
Ia beranjak.
Ia malu dengan Ied dan Fitrahnya.
Kisah Cinta Sejati
Di akhir episode, lelaki itu menjual seluruh pahalanya Baca entri selengkapnya »
& Komentar |
cerita | Ditandai: cerita, fiksi mini, imajinasi. |
Permalink
Ditulis oleh muhamadmuiz
24 Juni 2009
Awalnya saya ngeri untuk berkendaraan di ibukota ini. Keadaannya memang sangat berbeda. Disamping kepadatannya yang kian hari semakin memuncak, juga model jalanannya yang dua arah. Itu berarti kita dituntut melaju kendaraan bersama arus di pihak kita yang selalu berkecepatan tinggi. Siapa saja yang tak ikut arus, akan terinjak dan tertinggal debu. Melawan arus memang bukan pekerjaan gampang.
Perasaan kadang memang selalu menipu. Merontokkan kepercayaan diri akan kemampuan sebelum kita mencoba. Seiring waktu, setelah ada jarak, kemudian memikirkannya dengan lebih jernih dengan berbasis pengalaman merasakan sendiri dan kemudian membandingkan situasi lalu lintas di kampung, akhirnya sebuah kesimpulan berani saya ambil: lalu lintas di kota besar semacam Jakarta ini—dengan segala kepadatannya, kemacetannya, keriuhannya, dan kesimpangsiurannya—yang menggunakan model dua arah ini—dengan memasang batas untuk tiap arahnya—memang lebih nyaman untuk digunakan.
Kita tak perlu repot-repot khawatir kalau-kalau secara mendadak ada mobil dari arus berlawanan yang tiba-tiba muncul. Mengikuti arus memang selalu nyaman. Dan semua memang harus memiliki batas yang jelas. Kejelasan batas untuk dua arus inilah yang tidak ada di kampungku.
Sampai suatu ketika, saya sadar. Ternyata dibalik kerapian itu ada banyak borok yang melingkupinya. Ketika suatu kali saya Baca entri selengkapnya »
& Komentar |
Mbuh | Ditandai: ali sobirin, Balapulang, capres, kampanye, masa kecil, muhamadmuiz, pemilu |
Permalink
Ditulis oleh muhamadmuiz
15 Mei 2009
Asik menonton ulasan highlight liga2 eropa yg smkin panas bersama teman-teman di kosan. Berbagai tayangan liga Spanyol, Inggris, Jerman, Itali, Prancis dan lainnya.
Tiba-tiba, penyiar berita memberitahukan bahwa telah tiba pada segmen terakhir, yakni giliran kembali ke tanah air. Artinya, mengulas pertandingan-pertandingan sepak bola Indonesia.
Satu teman yan sedari tadi tampak serius langsung saja tertawa, terkekeh. Ada unsur meremehkan dalam tawanya. mengandung sarkasme tingkat tinggi. Teman-teman yang lain ikut terprovokasi, mungkin karena memang mempunyai emosi yang sama dengannya. reaksi berikutnya, kontan secara serempak saling menyuruh satu sama lain untuk segera mengganti saluran. meski akhirnya tak juga di ganti.
Pertanyaan yang muncul di pikiran saya waktu itu adalah, kenapa muncul kekehan sarkatis seperti itu? bukankah itu sama saja menertawakan sendiri?
sebuah representasi kita (Indonesia), dari kita, dan untuk kita, tapi juga kita tertawakan bersama. ada semacam gejala sadhomasokisme nasionalisme yang muncul di sini. Baca entri selengkapnya »
& Komentar |
essai | Ditandai: Balapulang, Balapulang Wetan, ben anderson, imagined community, indonesia, komunitas imajiner, liga eropa. liga itali, liga inggris, liga spanyol, nasionalisme |
Permalink
Ditulis oleh muhamadmuiz
20 April 2009
PEMILU sudah dilaksanakan. Sekarang kita harus kembali memikirkan pembangunan ekonomi yang terhambat selama masa pemilu. Ekonomi adalah salah satu permasalahan bangsa yang sejak dulu belum juga berhasil diselesaikan.
Sejak bangsa ini dihantam badai krisis ekonomi pada medio 1997, sampai kini perekonomian kita belum juga mencapai titik yang diidealkan seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Dari mulai ketimpangan pendapatan di lapisan bawah, rupiah yang dari waktu ke waktu semakin turun nilainya sampai kerentanan dunia moneter kita yang dihantam badai krisis global.
Permasalahannya, niat untuk membangun perekonomian ke arah yang lebih baik selalu terbentur oleh kemauan politik (political will) yang tak sejalan. Karena itu, setelah kita berhasil melaksanakan pemilihan umum yang telah menentukan siapa pemimpin baru kita,diharapkan akan muncul suasana baru dalam tubuh pemerintahan kita.
Bagaimanapun juga, pembangunan ekonomi tidak terlepas dari kondisi politik (pemerintah) yang mendukung. Untuk membangun perekonomian bangsa ke depan, setidaknya ada beberapa langkah yang mesti dicatat dan menjadi agenda para pemimpin kita. Kemudian harus sesegera mungkin dilaksanakan. Pertama, Baca entri selengkapnya »
& Komentar |
artikel | Ditandai: Balapulang, Balapulang Wetan, dana kampanye, ekonomi, Muhamad Muiz, muhamadmuiz, pemerintah, pemilu, politik, SINDO |
Permalink
Ditulis oleh muhamadmuiz
15 April 2009
“… Mereka takut kalau-kalau Indonesia mengambil alih kendali peradaban dunia di masa mendatang. Dibentuklah Liga Negara-Negara Barat (LNB), bertujuan untuk menumpas potensi imperium yang menggejala dari negeri Indonesia. Mereka bersepakat untuk mengirimkan pasukan-pasukan militer mereka guna merebut Indonesia. ”Kita jajah kembali bangsa itu!!!”, itulah semangat yang mereka suarakan…”
Bermula dari krisis yang melanda Negara Thailand pada medio 1996-an, akhirya semakin meluas pada sebagian besar negara di benua Asia lainnya. Krisis tersebut akhirnya juga melanda negara Indonesia yang merupakan bagian dari ekonomi global dan termasuk dari daratan benua Asia.
Di Indonesia, dunia perbankan adalah yang paling terpukul oleh adanya krisis moneter yang semakin hebat ini. aliran kredit perbankan macet, investasi mengalami kontraksi yang cukup signifikan, inflasi tinggi tak terhindarkan, rupiah anjlok pada kisaran lebih dari Rp 12.000 per-dolarnya.
Kacaunya perekonomian negara berimbas pula pada perpolitikan bangsa yang berujung pada peristiwa bersejarah reformasi 1998. Pada waktu itu, kondisi Indonesia semakin mencekam. Keamanan merupakan barang yang super mahal untuk diperoleh. Penjarahan terjadi dimana-mana. Fundamental perkonomian bangsa yang pada mulanya cukup kuat akhirnya ikut terpukul juga. Maka, semakin ambruklah dunia moneter di negeri ini.
Semua gejala tersebut berujung pada Baca entri selengkapnya »
& Komentar |
cerita | Ditandai: Balapulang, Balapulang Wetan, barat, indonesia, krisis ekonomi indonesia, krisis moneter, mahasiswa tegal, muhamadmuiz, pengangguran, thailand, wayang |
Permalink
Ditulis oleh muhamadmuiz
27 Maret 2009
Negeri Balapulang dikenal sebagai negeri yang pembangunan industrialisasinya belum segencar yang dilakukan di negeri-negeri yang lain. Tanah-tanah persawahan masih terhampar di sana-sini. Suasana pedesaan yang begitu asri di tambah mayoritas penduduknya yang bermatapencaharian sebagai petani membuat negeri ini dikenal sebagai negeri agraris dimana penduduknya bisa memenuhi seluruh kebutuhan pangan hanya dengan produksi dalam negeri pada setiap tahunnya. Tidak pernah sekalipun dalam sejarahnya, negeri ini mengkspor bahan makanan dari negeri-negeri tetangga.
Kehidupan penduduknya dalam berkeluarga nyaris tidak pernah mendapat kesulitan yang berarti. Rupanya, keharmonisan di lingkungan keluarga menjadi kunci keberhasilan model pertanian keluarga dari dulu hingga kini. Tanah pertanian digarap dengan sistem tradisional di mana pengelolaan tahap-tahap bertani dari mulai pengadaan benih sampai pendistribusiannya disandarkan pada SDM-SDM dari keluarga sendiri. Setiap anggota keluarga diberi tugas sesuai kemampuan masing-masing. Dan kaum perempuan memegang peranan yang sangat vital dalam menjaga keberlangsungan produksi pertanian yang bercorak pada model keluarga tersebut.
Dari mulai ikut memilih dan menabur benih, proses penyiangan, hingga penyediaan konsumsi bagi petani lainnya perempuan selalu memegang peranannya dengan cukup baik. Dan yang tak kalah pentingnya adalah kaum perempuan merupakan modal utama dalam menjaga regenerasi keturunan dan juga mendidik para anak-anak yang disiapkan untuk menjadi petani pada periode selanjutnya.
Namun suatu ketika tiba-tiba seluruh penduduk di negeri Balapulang dibuat pusing dengan semakin berkurangnya produktivitas petani perempuan. Baca entri selengkapnya »
Leave a Comment » |
cerita | Ditandai: Balapulang, Balapulang Wetan, Cerita Pendek, pahlawan, Ponary, Superman |
Permalink
Ditulis oleh muhamadmuiz
17 Maret 2009
Dari Nur Ahmad Satria
“ Lebih baik di bom atom, ketimbang hidup kurang dari 100% merdeka”
(Jenderal Soedirman)
“ Lebih baik Indonesia tenggelam ke dasar laut dari pada dijajah..”
(Bung Hatta)
Krisis ekonomi dunia termasuk Indonesia, merupakan dampak dari krisis sistem perekonomian dunia. Setelah runtuhnya Rusia sebagai barometer perekonomian sosialis di satu sisi dan gagalnya sistem ekonomi kapitalis pada sisi lain. Sistem kapitalis lebih mementingkan capital dan pemiliknya daripada tenaga kerja. Produktivitas capital lebih dihargai (cost of capital) dibanding produktivitas manusia. Hal ini sangat rentan terhadap konflik kelas, akibat penindasan terhadap tenaga kerja oleh para pemilik capital.
Negara-negara kapitalis selalu menciptakan perebutan pengaruh dan kekuasaan untuk mempertahankan dan mengembangkan capital mereka . Liberalisasi maupun globalisasi sering diidentikkan dengan penanaman nilai-nilai keseluruh dunia . Tujuan ideal dari system ekonomi kapitalis sebenarnya tidak berbeda dengan system ekonomi sosialis, yaitu “keadilan” dan “kemakmuran”. Perbedaan terjadi hanya pada cara pencapaiannya. Menurut system ekonomi sosialis, setiap warga negaranya berhak mendapatkan jatah keperluan pokok , kesehatan, pekerjaan, dan semua pendapatan diterima oleh Negara, untuk digunakan bagi kepentingan seluruh masyarakat (warga Negara). Dilain pihak menurut sistem kapitalis, keadilan dan kemakmuran sempurna akan tercapai apabila struktur pasar dalam keadaan persaingan sempurna (perfect competition), artinya masing-masing pelaku ekonomi (economic agents) mempunyai kekutan ekonomi yang sama sehingga tidak ada satu kekuatanpun yang lebih kuat dapat mengeksploitasi yang lain. Namun di lain pihak masing-masin pelaku ekonomi berperilaku secara rasional , yaitu selalu ingin memaksimir sesuatu (more better). Setiap firm berusaha mencapai skala ekonomi (economic scale) yang tertinggi, perusahaan tersebut ingin menjadi perusahaan yang dominan (dominan firm). Antara lain melalui penguasaan input tertentu, penguasaan teknologi yang unggul, mengupayakan hak paten, dan lain-lain, sehingga perusahaan tersebut dapat mencapai posisi monopoli. Dengan posisi tersebut perusahaan tersebut bisa menjadi penentu harga (price leader). Perilaku semacam itulah yang menyebabkan struktur pasar persaingan sempurna tidak akan pernah tercapai. Baca entri selengkapnya »
& Komentar |
artikel | Ditandai: Balapulang Wetan, dualistic strategy, ekonomi, ekonomi indonesia, gerakan ekonomi, kapitalisme, kemandirian ekonomi, sosialisme Balapulang |
Permalink
Ditulis oleh muhamadmuiz
9 Maret 2009
Kurang lebih enam puluh tahun sudah republik ini bebas dari penindasan dan cengkeraman tangan-tangan penjajah. Setelah kita melewati masa-masa itu, setidaknya banyak peluang bagi kita untuk memikirkan dan melakukan perbaikan serta pembenahan dari setiap kekurangan dan kelemahan di segala sektor yang (mungkin) banyak menjadi masalah cukup krusial bagi republik ini (Indonesia).
Indonesia termasuk kategori negara yang mempunyai lautan dan daratan luas, disamping sumber daya alam yang melimpah. “…orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat, kayu dan batu jadi tanaman”, demikian sepenggal lirik lagu Koes Plus. Namun sayang, pada kenyataannya tidak sepeti apa yang kita bayangkan. Potret kemiskinan: anak putus sekolah, pengangguran, kebodohan, penindasan dan penyakit (baca: busung lapar) serta “pesta” KKN, adalah gambaran buram sekaligus problem akut yang tak kunjung usai yang terus mendera bangsa yang kita cintai ini. Sehingga, kalau kita gambarkan bahwa negara ini ibarat sebuah rumah tua yang mengalami kerusakan fatal atau seperti benang yang kusut dan sangat ruwet.
Fenomena semacam itu menjadi problem yang sangat berat dan perlu ditangani secara intensif, serta butuh keseriusan dan partisipasi semua pihak, terutama dari pemerintah. Pertanyaannya, apakah kondisi seperti ini (kemiskinan, anak putus sekolah, dan masalah sejenisnya) sebagai sebuah “takdir” atau memang dikarenakan belum adanya kebijakan (pemerintah) yang benar-benar berpihak terhadap kaum lemah (?). Baca entri selengkapnya »
& Komentar |
artikel | Ditandai: karl marx, kebijakan publik, mahasiswa tegal, muhamadmuiz |
Permalink
Ditulis oleh muhamadmuiz
3 Maret 2009
Suatu keadaan yang bukan saja khayalan, jika pesantren dapat bersenggama dengan budaya lokal. Biar bagaimanapun, pesantren ada karena masyarakat sekitar yang pastinya punya budaya yang telah tumbuh-kembang bersama mereka. Adanya pesantren bukanlah untuk memporakporandakan budaya yang telah melekat pada diri mereka, akantetapi untuk menjaga dan menjaga budaya yang telah ada.
Sangat ironis sekali bila antitesalah yang terjadi. Pesantren yang lahir dari rahim budaya lokal seharusnya bisa mengawininya, malah menjaga jarak, mencurigainya bahkan menolaknya dengan keras. Entah karena alasan apa, fakta membuktikan tidak sedikit pesantren yang melarang keras santrinya untuk melihat pentas budaya apalagi memelajarinya. Memang acara-acara tertentu dalam tradisi pesantren, acapkali d\iselingi hiburan-hiburan yang merupakan kreasi dari santri, akan tetapi kreasi yang ditampilkan hanyalah kabaret yang berbeda jauh dengan model drama khas masyarakat lokal. Terkadang juga dipentaskan seni musik, akan tetapi tidak beda jauh dengan kreasi drama yang disebut di atas. Seni musik yang dipentaskan tidaklah mewakili aspirasi masyarakat sekitar. Musik yang biasanya dipentaskan yaitu jenis musik gambus, japin dan sejenianya. Pokoknya yang berbau arab. Baca entri selengkapnya »
& Komentar |
artikel | Ditandai: budaya lokal, kesenjangan sosial, pesantren |
Permalink
Ditulis oleh muhamadmuiz